Paska Peresmian AITF, FILKOM UB Berencana Menginisiasi Program AI Inklusif: Beri Wadah bagi Talenta yang Belum Lolos Seleksi

Semangat pengembangan talenta kecerdasan buatan (AI) di Indonesia menemui momentum baru. Pada Rabu (11/03/2026), bertempat di Auditorium, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB), menjadi saksi pembukaan resmi Workshop 1 Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) 2026. (https://filkom.ub.ac.id/2026/03/11/filkom-ub-tuan-rumah-pembukaan-workshop-1-artificial-intelligence-talent-factory-2026/). Acara yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) ini berlangsung sukses, tetapi sebuah realitas menarik muncul: dari 120 lebih pendaftar pada Batch 2, dari berbagai fakultas, hanya 38 talenta yang berhasil lolos seleksi ketat. Menanggapi gap yang besar ini, UB bergerak cepat dengan merancang program mandiri yang lebih inklusif.
Dekan FILKOM UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM., menyatakan bahwa fakultas memiliki tanggung jawab moral untuk memfasilitasi para talenta AI potensial yang belum mendapatkan kesempatan di jalur utama AITF.
“Kami melihat ada potensi luar biasa yang belum terfasilitasi. Oleh karena itu, di bawah koordinasi dengan Wakil Rektor Bidang Akademik, kami di internal FILKOM tengah menyiapkan program serupa (AITF-like) untuk memberikan wadah bagi mereka yang tidak terserap di kegiatan AITF ini. Kami ingin memastikan semangat dan ide inovatif mereka tetap mendapatkan panggung yang layak,” ungkap Ir. Tri Astoto.
Beliau menekankan bahwa inovasi tidak boleh berhenti karena batasan kuota. Program “AITF-like” versi UB ini dirancang agar mahasiswa tetap bisa mengasah kompetensi mereka melalui media yang terstruktur.
Berbeda dengan program utama AITF yang telah membagi fokus use case pada tiga universitas besar (UB, UGM, dan ITS), program mandiri UB ini akan menantang para peserta untuk mengeksplorasi domain masalah yang baru. FILKOM UB memastikan bahwa inovasi yang dihasilkan nantinya akan melengkapi—bukan menduplikasi—apa yang sudah dikerjakan saat ini. Berikut adalah pemetaan use case AITF saat ini yang menjadi acuan agar program baru FILKOM UB tetap berada di jalur yang unik:
| Institusi | Fokus Use Case yang Sudah Ada |
| Universitas Brawijaya (UB) |
|
| Universitas Gadjah Mada (UGM) |
|
| Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) |
|
Dengan mengacu pada data use case di atas, program baru AITF-like dari UB ini akan menantang para pesertanya untuk menciptakan inovasi di luar topik-topik tersebut. Hal ini membuka peluang besar bagi pengembangan AI di sektor kesehatan, ketahanan pangan, hingga optimasi infrastruktur daerah yang spesifik bagi kebutuhan lokal maupun nasional.
Ir. Tri Astoto menekankan bahwa inisiatif ini bukan sekadar kegiatan sampingan, melainkan bagian dari visi besar transformasi pendidikan di fakultas.
“Langkah ini sejalan dengan komitmen kami dalam membangun proses pendidikan yang organik. Di FILKOM UB, kami terus mengarahkan kurikulum dan atmosfer akademik agar setiap mahasiswa—baik yang tergabung dalam program khusus maupun reguler—memiliki kompetensi AI yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan,” tambahnya.
Melalui inisiatif ini, FILKOM UB tidak hanya berperan sebagai tuan rumah bagi program nasional, tetapi juga menjadi inkubator mandiri yang memastikan tidak ada talenta AI yang tertinggal. Program ini diharapkan menjadi “kawah candradimuka” bagi para praktisi AI muda untuk membuktikan bahwa kegagalan di satu pintu hanyalah awal dari kesuksesan di pintu yang lain. Dengan semangat inklusivitas, FILKOM UB terus melangkah maju untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai pemain kunci dalam ekosistem kecerdasan buatan global. (rr/tak)