Kolaborasi Mahasiswa FILKOM Dan FTP UB Raih Penghargaan Lomba Internasional di Malaysia

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) dan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB) kembali menorehkan prestasi di kancah internasional pada ajang 2nd International Student Summit (2nd ISS) 2026 – International Essay Competition yang diselenggarakan oleh Sentosa Foundation bekerja sama dengan International Students Association of USIM (Insan USIM), Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), serta World Association of Young Scientists (WAYS), Kuala Lumpur, Malaysia, pada 14–15 Februari 2026.
Kompetisi ini diikuti oleh delegasi mahasiswa dari 6 negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Kenya, Nigeria, Somalia, dan Syria, yang tergabung dalam forum 2nd ISS 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dengan mengangkat tema besar “Building a Sustainable and Inclusive Future” dengan delapan subtema, yaitu Agriculture, Environment, Health, Food, Education, Law and Economics, Technology, serta Tourism and Culture.Mahasiswa. Berbagai negara berpartisipasi dalam ajang ini sebagai bagian dari forum tahunan ISS yang mempertemukan delegasi lintas negara dan institusi.
Secara teknis, seleksi lomba dilakukan dalam beberapa tahapan. Tahap awal berupa seleksi naskah dan pengumpulan poster soft file sebelum tenggat yang telah ditentukan.Finalis yang dinyatakan lolos wajib mengkonfirmasi kehadiran dan menyiapkan poster cetak ukuran A0/A1 untuk dipresentasikan dalam sesi Exhibition and Judging Session. Pada tahap final, presentasi dilakukan dalam dua skema. Tahap pertama adalah poster presentation (exhibition) sesuai subtema, dengan durasi 7 menit (4 menit pemaparan dan 3 menit tanya jawab) dan dinilai oleh dewan juri masing-masing subtema. Tim dengan performa terbaik kemudian berkesempatan masuk ke tahap kedua, yaitu presentasi menggunakan PowerPoint (PPT) yang kembali berdurasi 7 menit dan dinilai oleh seluruh juri lintas subtema. Penilaian akhir merupakan kombinasi antara skor paper (40%) dan skor presentasi (60%), sehingga aspek substansi ilmiah dan kemampuan penyampaian memiliki bobot yang sama pentingnya.
Dalam kompetisi tersebut, tim Universitas Brawijaya (UB) yang terdiri atas Revan Adli Pratama (Sistem Informasi), Nathanael Erens Susanto (Teknik Komputer), Naurah Madaniyah Nawazillil (Pendidikan Teknologi Informasi), Ellyzha Tri Lestari (Pendidikan Teknologi Informasi), dan Yunadi Akbar Alino (Ilmu dan Teknologi Pangan) berhasil membawa pulang empat penghargaan bergengsi. Tim ini dibimbing oleh dosen FILKOM UB, Dr. Okta Purnawirawan, S.Pd., Gr.
Adapun empat penghargaan yang diraih adalah sebagai berikut:
- Gold Medal – Subtema Environment melalui karya “DiaFer: A Community-Based Circular Model for Diaper Waste Management”.
- Bronze Medal – Subtema Technology melalui karya “Dylexi: Bridging the Inclusion Gap Through Educational Technology Innovation”.
- 2nd Runner Up (Juara 3 Umum) sebagai peringkat keseluruhan terbaik kedua dalam Essay Competition.
- Favorite Paper sebagai karya yang memperoleh apresiasi khusus dari peserta atau berdasarkan penilaian tambahan dalam kategori favorit.

Pada subtema Environment, tim menghadirkan inovasi “DiaFer: A Community-Based Circular Model for Diaper Waste Management”. DiaFer merupakan inisiatif Green-Tech Social Enterprise yang menawarkan solusi sirkular terhadap permasalahan limbah popok sekali pakai yang mencapai ribuan ton per hari di Indonesia. Melalui sistem berbasis Platform-as-a-Service (PaaS), masyarakat didorong untuk memilah dan menyetorkan limbah popok melalui mekanisme insentif poin digital. Limbah yang terkumpul kemudian diproses menggunakan pendekatan bioteknologi (EM4 fermentation) menjadi pupuk organik bernilai guna. Model ini tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga memberdayakan UMKM lokal sebagai titik pengumpulan dan menciptakan nilai ekonomi baru. Inovasi ini sejalan dengan SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), serta SDG 15 (Life on Land).
Sementara itu, pada subtema Technology, tim mengangkat karya berjudul “Dylexi: Bridging the Inclusion Gap Through Educational Technology Innovation”.Karya ini menyoroti “silent crisis” dalam sistem pendidikan Indonesia, yaitu kurangnya deteksi dini terhadap Specific Learning Disabilities (SLD) seperti disleksia, disgrafia, dan diskalkulia. Melalui pendekatan berbasis Artificial Intelligence (AI), Dylexi dirancang sebagai platform dengan tiga pilar utama: AI-based diagnostic assessment, personalized adaptive learning modules, serta interest and talent mapping. Konsep ini mendorong pergeseran paradigma pendidikan dari yang bersifat reaktif menjadi proaktif dan personal. Dengan pendekatan tersebut, Dylexi berkontribusi terhadap pencapaian SDG 4 (Quality Education) dan SDG 10 (Reduced Inequalities), sekaligus memperkuat kesiapan generasi muda dalam menghadapi bonus demografi Indonesia.
Okta menyampaikan bahwa prestasi yang diraih ini merupakan hasil kolaborasi erat antara FILKOM dan FTP, kerja keras tim yang konsisten sejak tahap perumusan ide hingga penyempurnaan karya, serta komitmen untuk menghadirkan solusi yang berdampak nyata bagi masyarakat.
“Kami mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar kompetitif dalam ajang perlombaan, tetapi juga reflektif dan solutif dalam melihat persoalan bangsa,” ujarnya.
Selamat atas prestasi yang diraih oleh tim FILKOM dan FTP UB, keberhasilan ini selaras dengan visi UB dalam menghadirkan pendidikan yang unggul dan berdampak. Melalui sinergi antara keilmuan, teknologi, dan kepedulian sosial, diharapkan semakin banyak inovasi lahir dari mahasiswa UB yang tidak hanya kompetitif di tingkat nasional maupun internasional, tetapi juga memberi kontribusi strategis bagi pembangunan bangsa.(op/rr)