FILKOM UB Laksanakan Pembekalan Tahap III Mahasiswa Membangun Desa 2026

Pembekalan Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Tahap III dilaksanakan oleh Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) pada Jumat, 19 Juni 2026. Kegiatan yang dilaksanakan di Auditorium Algoritma FILKOM UB ini merupakan rangkaian yang dirancang secara komprehensif guna memastikan kesiapan para mahasiswa sebelum diterjunkan langsung ke masyarakat.
Melalui pemaparan materi pertama, Ketua Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) FILKOM UB, Rakhmadhany Primananda, S.T., M.Kom., secara tegas mematahkan mitos keliru mengenai ruang lingkup keselamatan kerja. Dhany, biasa disapa, mengingatkan bahwa K3 bukan hanya krusial untuk sektor industri manufaktur atau proyek konstruksi berskala besar.
Nyatanya, potensi bahaya justru kerap mengintai dalam aktivitas harian mahasiswa, juga selama program pengabdian. Risiko tersebut tersebar mulai dari mobilisasi perjalanan menuju lokasi, pelaksanaan field survey, agenda kerja sosial, proses instalasi device teknologi, hingga berbagai aktivitas outdoor lainnya di tengah masyarakat.
“Dalam implementasinya, K3 sebagai langkah sistematis untuk menciptakan ruang gerak yang aman, sehat, dan efisien, guna memagari mahasiswa dari ancaman cedera fisik, paparan penyakit, hingga kelelahan ekstrim selama mengabdi di masyarakat,” jelas Dhany.
Dhany menambahkan dan mewanti-wanti mahasiswa agar tidak menormalisasi tiga unsafe behavior atau kebiasaan tidak aman yang kerap dianggap remeh dan wajar selama masa pengabdian.
Kelalaian pertama yang paling sering ditemui adalah enggan mengenakan helm saat berkendara dengan dalih jarak menuju balai desa sudah dekat. Padahal, perilaku abai ini menyimpan risiko cedera kepala serius hingga kecelakaan fatal yang selalu berujung pada penyesalan di kemudian hari.
Kedua, kebiasaan merokok saat berkendara sepeda motor juga jamak dijumpai karena dianggap hal biasa. Aktivitas ini memicu distraksi kuat dan hilangnya konsentrasi, membuat refleks tangan menjadi tidak responsif saat menghadapi situasi darurat, serta meningkatkan risiko kebakaran akibat abu rokok yang beterbangan.
Kelalaian ketiga, yakni tindakan overload stop kontak dengan menumpuk berbagai kabel pengisi daya gadget. Kebiasaan yang sekilas dianggap aman-aman saja ini sejatinya berpotensi besar memicu overheating, korsleting arus listrik, kebakaran posko, hingga kerusakan fatal pada peralatan elektronik yang dibawa oleh mahasiswa.

Pada pemaparan materi kedua, hadir Camat Doko, Asbir Muhare, S.E., yang memberikan penjelasan mendalam mengenai pemetaan ekosistem dan potensi Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar. Wilayah agraris subur yang membentang seluas 70,95 km² di lereng Gunung Kawi ini membawahi 10 desa strategis. Melalui pengenalan wilayah makro ini, mahasiswa diberikan wawasan komprehensif mengenai inovasi desa tematik, seperti komoditas kopi di Sumberurip dan Resapombo, pertanian bentul di Jambepawon, perkebunan cengkeh di Sidorejo, hingga pesona wisata Puncak Langit di Desa Kalimanis. Pemetaan terstruktur tersebut bertujuan agar program kerja yang disusun mahasiswa dapat berjalan logis, terarah, dan selaras dengan Rencana Anggaran Ketahanan Pangan Desa setempat.
Lebih spesifik, terdapat tiga komoditas sektoral strategis di Kecamatan Doko yang diproyeksikan menjadi sasaran utama inovasi program MMD FILKOM UB. Sektor pertama bertumpu pada penguatan kelembagaan petani Kopi Doko. Langkah ini diwujudkan melalui pembentukan asosiasi, peningkatan kapasitas budidaya serta pascapanen, hingga optimalisasi keterlibatan generasi muda dalam proses branding dan digital marketing usaha kopi lokal.
Selanjutnya, fokus kedua diarahkan pada pengembangan Tanaman Bentul Jambepawon. Inovasi pada komoditas talas bentul ini diakselerasi melalui pembentukan unit usaha bersama, pendampingan teknis budidaya, serta hilirisasi pengolahan hasil panen demi meningkatkan nilai jual objek wisata dan ekonomi kreatif.
Sementara itu, sektor ketiga menyasar lini Peternakan Kambing atau Domba. Program ini difokuskan pada modernisasi manajemen budidaya ternak potong, penguatan kelembagaan peternak lokal, serta rencana revitalisasi pasar hewan agar lebih modern dan memenuhi standar kesehatan hewan yang optimal.

Materi ketiga, yang disampaikan oleh Naser Jawas, S.T., M.Kom., Ph.D., yang mengulas secara mendalam strategi pelatihan dan transfer teknologi bagi perangkat desa melalui tema “Digitalisasi Layanan Desa Melalui Implementasi Artificial Intelligence (AI)”. Dalam kelanjutan pemaparannya, Naser kembali mengingatkan mahasiswa untuk selalu memposisikan diri sebagai mitra kerja yang mendampingi, bukan menggurui perangkat desa. Fokus utama dari pendampingan ini adalah mentransformasi pekerjaan repetitif birokrasi menjadi jauh lebih ringan dan efisien dengan bantuan Generative AI. Akselerasi tersebut diarahkan langsung pada efisiensi tata kelola administrasi harian, seperti otomatisasi penyusunan naskah dinas berupa Surat Keterangan Usaha (SKU) dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Tidak hanya itu, mahasiswa juga diinstruksikan untuk memaksimalkan fitur cerdas bertenaga AI dalam melakukan digitalisasi informasi website desa, termasuk pemanfaatan fitur voice-to-text yang diproyeksikan mampu menjadi solusi solutif bagi perangkat desa.
Lebih spesifik, Naser merumuskan program kerja taktis bertajuk Pelatihan Digitalisasi Informasi dan Publikasi Desa yang dapat dilakukan nanti oleh, seperti:
- Menghidupkan Website Desa: Mahasiswa mendampingi admin desa dalam memanfaatkan framework prompt AI untuk menulis artikel berita kegiatan desa dengan gaya jurnalistik formal secara instan dan rapi.
- Optimalisasi Media Sosial: Melatih perangkat desa menyusun content planner (ide konten bulanan) serta merangkai caption informatif di Instagram atau Facebook desa demi menunjang keterbukaan informasi publik.
- Edu-Konten Warga: Memanfaatkan kecerdasan buatan untuk merancang naskah penyuluhan warga yang komunikatif, mulai dari sosialisasi pencegahan stunting, pengumuman tenggat waktu Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), hingga transparansi informasi bantuan sosial (bansos).
Pemberian materi pembekalan ini diharapkan agar seluruh peserta MMD FILKOM UB di Kabupaten Blitar mampu menjadi motor penggerak transformasi yang adaptif. Langkah taktis ini sekaligus menjadi bukti konkret komitmen fakultas dalam mengarsiteki kemandirian digital desa, selaras dengan visi pengabdian yang senantiasa membawa spirit IT For Better Life. (rr)