Mengubah Trauma Menjadi Lentera: FILKOM EduHealth v3.3 Kupas Tuntas Dampak Psikologis dan Psychological First Aid

Mengubah Trauma Menjadi Lentera: FILKOM EduHealth v3.3 Kupas Tuntas Dampak Psikologis dan Psychological First Aid

dok. PSIK FILKOM UB

Kekerasan dan perilaku perundungan (bullying) di lingkungan akademik bukan sekadar persoalan pelanggaran disiplin, melainkan sebuah ancaman serius yang dapat merusak struktur psikologis korbannya. Manifestasi intimidasi ini tidak terbatas pada tindakan fisik yang kasat mata seperti memukul, tetapi juga kerap mewujud dalam bentuk non-fisik yang merusak dari dalam, seperti penghinaan, pengucilan sosial, ancaman yang mencekam, hingga segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat kemanusiaan. Menyadari urgensi tersebut, integritas kesehatan emosional seluruh sivitas akademika kini ditempatkan sebagai pilar prioritas utama.

Oleh karena itu, di tengah dinamika perkuliahan yang padat, kesehatan mental mahasiswa kini menjadi perhatian yang kian krusial. Guna mengantisipasi ancaman tersebut dan memberikan ruang edukasi yang aman, Unit Layanan Konseling Terpadu (ULKT) Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (FILKOM UB) hadir mengambil langkah konkret dengan menyelenggarakan kembali agenda berseri FILKOM EduHealth v3.3 pada Jumat (22 Mei 2026). Bertempat di Gedung F FILKOM UB, kegiatan ini mengusung misi sinergis untuk mengupas tuntas dampak psikologis kekerasan seksual serta langkah taktis dalam memberikan pertolongan pertama pada kesehatan mental.

Bekerja sama dengan Indonesia Jiwa Sehat, agenda berkala yang dipandu oleh Prasetyo Iskandar, S.T. selaku moderator ini, berhasil menjaring antusiasme luar biasa dari civitas akademika. Acara resmi dibuka melalui penyampaian laporan oleh Naser Jawas, S.T., M.Kom., Ph.D., selaku Ketua Pelaksana FILKOM EduHealth v3.3. Dalam sambutannya, Naser menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pakar yang berkenan mendedikasikan ilmunya. Ia mengungkapkan bahwa statistik pendaftar online menyentuh angka 57 peserta, namun fakta di lapangan menunjukkan jumlah kehadiran yang melesat melampaui data registrasi awal.

“Materi yang diangkat hari ini sangat relate dengan realitas sosial anak muda saat ini. Kami berharap kegiatan ini mampu menginjeksikan dampak positif yang nyata dalam ekosistem kampus,” tutur Naser.

dok. PSIK FILKOM UB

Apresiasi serupa disampaikan oleh Dr. Eng. Budi Darma Setiawan, S.Kom., M.Cs., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan FILKOM UB. Hadir membuka jalannya acara secara formal, beliau memuji konsistensi ULKT yang sukses mengawal program ini hingga mencapai jilid ketiga. Keberhasilan ini melengkapi manifesto edukasi kesehatan mental sebelumnya yang terdokumentasi dalam pelaksanaan FILKOM EduHealth v3.1 dan kegiatan FILKOM EduHealth v3.2 yang berfokus pada manajemen overthinking. Melalui keberlanjutan program ini, Dr. Eng. Budi berharap mahasiswa FILKOM UB menjadi individu yang lebih mawas diri, resilien, dan tanggap terhadap kesehatan psikologis lingkungan sekitar.

Memasuki sesi pertama, yang diisi oleh Dr. dr. Frilya Rachma Putri, Sp.K.J.(K), spesialis kedokteran jiwa dari Fakultas Kedokteran (FK) UB yang membawakan topik krusial bertajuk “Memahami Dampak Psikologis Kekerasan Seksual dan Trauma”. Secara naratif dan visioner, dr. Frilya memantik perhatian peserta menggunakan analogi pop-kultur yang jamak dikenal: kontras psikologis antara karakter fiksi Joker versi mendiang Heath Ledger dalam film The Dark Knight dan Batman yang diperankan Christian Bale.

“Trauma adalah sebuah realitas pahit, namun respons manusia terhadapnya adalah sebuah pilihan arsitektur jiwa,” papar dr. Frilya dalam presentasinya.

Beliau menjelaskan konsep Joker (Trauma – Breaks Down) untuk menggambarkan individu yang hancur berkeping-keping oleh traumanya. Ketika dihadapkan pada ketidakadilan struktural dan kekerasan kekejaman, ia gagal memproses emosi negatif tersebut secara mekanis dan sehat. Akibatnya, akumulasi trauma tersebut merusak struktur dasar kepribadiannya, termanifestasi sebagai gangguan mental akut, hingga melahirkan dorongan destruktif untuk membalas dendam kepada dunia dengan menciptakan kekacauan masif.

Kontras dramatis diperlihatkan melalui narasi Bruce Wayne alias Batman. Bruce menyaksikan pembunuhan tragis kedua orang tuanya secara langsung di depan matanya sendiri—sebuah trauma psikologis yang sangat mendalam dan berakar. Namun, alih-alih menyerah pada kegelapan jiwa (breakdown), ia berhasil melakukan transmutasi emosional. Bruce menyalurkan rasa sakit, kemarahan, dan kesedihan yang tak bertepi itu menjadi sebuah tujuan hidup yang bermakna (purpose), yakni melindungi orang lain dari penderitaan yang sama.

Lebih lanjut, dr. Frilya menegaskan tiga pilar esensial yang wajib dipahami oleh audiens terkait dengan fenomena ini. Pilar pertama berfokus pada dampak kronis, di mana trauma akibat kekerasan seksual terbukti memiliki implikasi fisik dan psikologis jangka panjang yang bersifat destruktif jika diabaikan begitu saja.

Selanjutnya pada pilar kedua, beliau membedah manifestasi klinis yang menunjukkan bahwa dampak psikologis tersebut dapat bermanifestasi secara konkret dalam kehidupan sehari-hari. Korban berisiko mengalami kecemasan akut, depresi mendalam, rasa bersalah, rasa malu yang hebat, fenomena dissociation, hingga Gangguan Stres Pasca Trauma (GSPT) atau yang secara global dikenal sebagai Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Sebagai pamungkas, pilar ketiga menawarkan metode pemulihan yang komprehensif. dr. Frilya menggarisbawahi bahwa intervensi psikologis yang mendalam serta penerapan evidence-based therapy (terapi berbasis bukti) mutlak dibutuhkan demi memfasilitasi proses pemulihan yang utuh dan humanis bagi para korban trauma maupun kekerasan seksual.

dok. PSIK FILKOM UB

Sesi kedua dilanjutkan oleh dr. Kresna Septiandy Runtuk, M.Biomed., Sp.K.J., yang menyajikan materi praktis mengenai Pertolongan Pertama Psikologis atau Psychological First Aid (PFA). Ini merupakan instrumen pertolongan pertama yang wajib diberikan secara tanggap sesaat setelah kondisi krisis terjadi di lingkungan sekitar kita.

Kresna mendefinisikan krisis sebagai sebuah disrupsi psikologis yang intens akibat peristiwa mendadak. Beliau menggarisbawahi paradoks penting dalam dunia psikiatri: “Respons emosional yang ekstrem pada saat krisis sebenarnya adalah situasi normal yang terjadi di dalam kondisi yang tidak normal (abnormal condition).” Oleh karena itu, kehadiran PFA bukan sebagai pengganti terapi klinis jangka panjang, melainkan sebagai jembatan stabilitas emosional awal guna mereduksi kepanikan korban.

Rangkaian FILKOM EduHealth v3.3 ini berlangsung secara interaktif melalui sesi tanya jawab yang dinamis antara mahasiswa dan narasumber. Dengan adanya bekal keilmuan yang holistik ini, ULKT FILKOM UB menegaskan komitmennya untuk terus memayungi mahasiswa agar tidak berjalan sendirian dalam menghadapi kabut psikologis, sekaligus mencetak agen-agen perubahan yang siap mengulurkan tangan bagi sesama. (rr)

IG Reel: https://www.instagram.com/p/DYvt6_EOJR4/