ULKT FILKOM UB Laksanakan EduHealth 3.2: Gagal Itu Wajar, Belajar Bangkit Tanpa Overthinking

Unit Layanan Konseling Terpadu (ULKT), Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya kembali menggelar kegiatan edukasi kesehatan mental bertajuk EduHealth 3.2. Mengusung tema “Gagal Itu Wajar: Belajar Bangkit Tanpa Overthinking”, acara ini diselenggarakan di Teater Heuristic, FILKOM UB, pada Jumat (08/05/2026). Kegiatan sebelumnya juga telah terlaksana dengan sukses pada Jum’at (2702/2026) (https://filkom.ub.ac.id/2026/03/04/ulkt-filkom-ub-gelar-filkom-eduhealth-v3-1/)
Kegiatan dibuka dengan laporan dari Ketua Pelaksana, Dr. Okta Purnawirawan, S.Pd., M.Pd., Gr. Dalam sambutannya, Okta menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras di tengah kepadatan agenda fakultas. Ia menegaskan bahwa FILKOM UB sangat concern terhadap pentingnya kegiatan seperti ini.
“Kesehatan mental bukan lagi isu minor, melainkan isu utama (major issue) yang harus diperhatikan serius dalam kehidupan serba digital saat ini,” ujar Okta.
Acara resmi dibuka oleh Dr. Eng. Budi Darma Setiawan, S.Kom., M.Cs., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan. Budi menyoroti realitas stres yang dialami setiap individu, di mana terdapat perbedaan tantangan antar masa. Beliau menekankan bahwa.
“Rasa gagal dan kecewa adalah keniscayaan dalam hidup, namun yang paling krusial adalah bagaimana kita meresponsnya. Poin utamanya terletak pada kemampuan kita dalam mengelola stres; apakah kita memilih untuk bangkit atau justru menyerah dalam diam. Meskipun kegagalan tidak bisa dihindari, tantangan sebenarnya adalah bagaimana kita mengontrol diri untuk menemukan kekuatan dan melangkah maju kembali,” jelas Budi.
Hadir sebagai narasumber pertama, Ulifa Rahma, S.Psi., M.Psi., Kepala Subdirektorat Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual, dan Perundungan, dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB. Ulifa menjelaskan bahwa kunci menghadapi tantangan mental sebenarnya sederhana, yakni berasal dari sugesti diri.
“Di era digital saat ini, tantangan terbesar kita adalah melawan gempuran dopamin instan dari gadget yang sering kali membajak sistem motivasi alami otak. Ketika kita terbiasa mendapatkan kesenangan tanpa usaha, kemampuan untuk menyukai proses yang mendalam akan melemah dan memicu fenomena blank saat menghadapi tekanan nyata. Oleh karena itu, penting untuk terus belajar mengenal diri sendiri melalui analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats (SWOT) agar kita tidak terjebak dalam pelarian semu seperti toxic positivity. Kita harus sadar bahwa kepuasan sejati muncul dari keberanian untuk bangkit dan mengontrol diri, bukan dari sekadar menimbun reward yang datang dengan mudah. Dengan menunda kesenangan instan, kita memberikan ruang bagi diri sendiri untuk merespons kegagalan secara logis dan menemukan kekuatan untuk melangkah maju kembali,” jelas Ulifa.

Lebih lanjut, Ulifa menjelaskan, menjaga kesehatan mental selama masa studi bukanlah perkara mudah karena mahasiswa sering kali dihadapkan pada tekanan akademik yang intens, di mana tumpukan tugas dan jadwal ujian menjadi pemicu utama stres yang signifikan. Kondisi ini kerap diperparah oleh kendala dalam manajemen waktu, yakni kesulitan dalam menyeimbangkan tuntutan perkuliahan dengan kehidupan pribadi agar tetap harmonis. Di sisi lain, proses adaptasi sosial di lingkungan baru juga membawa risiko tersendiri, seperti munculnya rasa kesepian yang mendalam jika interaksi antar sesama tidak terjalin dengan baik. Pengaruh media sosial pun turut menjadi faktor eksternal yang berbahaya, karena kecenderungan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain dapat menurunkan harga diri secara drastis. Terakhir, penurunan kondisi mental ini sering kali diperburuk oleh gaya hidup yang tidak sehat, seperti kebiasaan kurang tidur dan jarang berolahraga, yang secara perlahan mengikis ketahanan emosional mahasiswa.
Sebagai penutup, Ulifa menekankan bahwa penerapan strategi self-compassion dan self-talk positif harus dimulai dengan langkah fundamental, yaitu menyadari setiap emosi yang muncul tanpa memberikan penghakiman terhadap diri sendiri. Setelah kesadaran diri terbentuk, langkah selanjutnya adalah memvalidasi perasaan dengan mengakui bahwa emosi seperti rasa cemas adalah hal yang wajar dalam menjaga kesehatan mental.
Proses ini kemudian dilanjutkan dengan mempraktikkan self-kindness melalui kalimat dukungan diri, seperti meyakinkan diri bahwa Anda sedang berproses dan tidak sendirian dalam menghadapi situasi tersebut. Sebagai langkah terakhir, gunakanlah afirmasi yang spesifik serta realistis dengan menanamkan pikiran bahwa diri Anda sudah cukup dan senantiasa mampu belajar dari setiap pengalaman yang ada.
Beralih ke narasumber kedua, Aris S., S.Kom., seorang Database Engineer dari Diskominfo Kabupaten Malang, hadir membawa perspektif yang menyentuh sisi personal sekaligus dunia industri. Melalui kisah hidupnya, ia menekankan bahwa kekuatan mental sejati tidak datang begitu saja, melainkan tertempa melalui kesediaan untuk terus menghadapi ujian hidup yang datang bertubi-tubi.
Aris membagikan kisah perjuangannya saat harus menempuh studi hingga 14 semester untuk meraih gelar sarjana. Baginya, fase tersebut bukan sekadar urusan akademis yang berat, melainkan juga perjuangan melawan tekanan sosial yang menyesakkan, seperti rentetan pertanyaan “Kapan lulus?”, “Kerja di mana?”, hingga “Kapan nikah?” yang kerap menghantui para mahasiswa tingkat akhir. Di hadapan para peserta, ia pun menitipkan pesan yang menggugah:
“Lulus dalam 8 semester memang pencapaian yang hebat, tetapi mampu bangkit dari keterpurukan dan menyelesaikan studi di semester 14 dengan kepala tegak membuktikan bahwa Anda adalah seorang petarung sejati.”

Kisah ini ia bagikan sebagai pengingat nyata bagi siapa pun yang sedang berada di titik terendah agar tidak menyerah pada keadaan. Aris merumuskan tiga strategi praktis untuk bangkit, dimulai dengan menerima kenyataan bahwa kegagalan—baik itu mata kuliah yang mengulang maupun skripsi yang dicoret—adalah bagian wajar dari sebuah proses yang harus diterima dengan lapang dada. Selanjutnya, ia menyarankan untuk mematikan asumsi buruk tentang masa depan agar energi mental tidak terkuras sia-sia, dan terakhir, fokus pada masa kini dengan mengerjakan apa yang bisa diselesaikan saat ini secara bertahap.
Menutup sesinya, Aris menceritakan bagaimana ia akhirnya berhasil menembus dunia kerja pasca-kelulusan dengan memanfaatkan kekuatan jaringan pertemanan dan teknologi yang tersedia pada masa itu. Baginya, perjalanan hidup adalah sebuah proses belajar tanpa henti, di mana setiap kegagalan hanyalah satu babak penting yang mendewasakan mental seseorang menuju keberhasilan.
Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh Yuita Arum Sari, S.Kom., M.Kom., Ph.D., selaku Ketua ULKT FILKOM UB. Dipandu oleh Prima Zulvarina, S.S., M.Pd., sesi ini berlangsung secara interaktif dan inklusif, terutama dengan kehadiran rekan-rekan mahasiswa difabel yang didampingi oleh juru bahasa isyarat. Melalui penyelenggaraan EduHealth 3.2 ini, FILKOM UB berharap dapat melanjutkan kesuksesan seri sebelumnya dalam mendukung kesehatan mental mahasiswa secara berkelanjutan.
Sebagai penutup, kegagalan adalah pengalaman manusiawi yang pasti dialami oleh siapa pun tanpa pengecualian. Namun, kemampuan untuk bangkit dari kegagalan itulah yang menjadi kunci keberhasilan sesungguhnya. Menghadapi tantangan dengan kepala tegak dan mengubah setiap hambatan menjadi pijakan untuk melangkah maju bukan sekadar tentang pencapaian akademik, melainkan sebuah pembuktian atas ketangguhan karakter dan mentalitas seorang pemenang. (rr)