“Consent Over Words” Bawa Pesan “Pikir Sebelum Ketik”, Tim JARVIS FILKOM UB Tembus Final LIDM 2026

Poster digital pendidikan berjudul “Consent Over Words: Kata di Ruang Digital Dapat Melanggar Batas” karya Tim JARVIS FILKOM UB yang membawa pesan “Pikir Sebelum Ketik”
Tim JARVIS dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) berhasil lolos sebagai finalis nasional Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) 2026 Divisi Poster Digital Pendidikan (PDP). Pencapaian tersebut diraih melalui karya poster berjudul “Consent Over Words: Kata di Ruang Digital Dapat Melanggar Batas” yang mengangkat isu consent dan batas dalam komunikasi digital.
Tim JARVIS beranggotakan Sayyid Hasher Ghneimsylmi dan Wardatul Umma dari Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi FILKOM UB, serta Dike Aura Ramadhani Al Maghfiroh dan Keisha Rayya Setiawan dari Program Studi Desain Grafis, Fakultas Vokasi UB, dengan bimbingan Dr. Maurish Sofie Rahmi Batita, S.Pd., M.Ed. Melalui karya tersebut, tim JARVIS membawa pesan “Pikir Sebelum Ketik” sebagai ajakan kepada masyarakat untuk lebih sadar terhadap batas pribadi serta mempertimbangkan dampak dari kata-kata yang disampaikan kepada orang lain di ruang digital.
Pemilihan isu tersebut berangkat dari meningkatnya persoalan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO). Berdasarkan CATAHU 2024, Komnas Perempuan mencatat 981 kasus KBGO di ranah publik, sementara CATAHU 2025 mencatat peningkatan kasus KBGO sebesar 40,8%. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Tim JARVIS mengangkat pentingnya edukasi mengenai consent sebagai langkah preventif, terutama bagi generasi muda yang banyak beraktivitas di ruang digital.
Melalui Consent Over Words, Tim JARVIS mengajak masyarakat memahami bahwa komunikasi di ruang digital tetap memiliki batas. Komentar, pesan, maupun candaan yang dianggap biasa oleh pengirim dapat memberikan dampak berbeda bagi penerimanya. Karena itu, pesan “Pikir Sebelum Ketik” digunakan untuk mendorong kebiasaan mempertimbangkan kenyamanan dan batas orang lain sebelum menyampaikan sesuatu. Lebih dari sekadar tagar, #PikirSebelumKetik menjadi ajakan untuk berhenti sejenak sebelum mengirim pesan, komentar, maupun candaan di ruang digital. Melalui pesan tersebut, masyarakat diajak mempertimbangkan apakah yang disampaikan telah menghormati batas orang lain, mengandung unsur pelecehan yang mungkin tidak disadari, atau berpotensi membuat penerimanya merasa tidak aman.
Ketua Tim JARVIS, Sayyid Hasher Ghneimsylmi, menyampaikan bahwa karya tersebut dibuat untuk mengingatkan masyarakat bahwa consent juga perlu diterapkan dalam interaksi sehari-hari di ruang digital.
“Kami ingin mengingatkan bahwa apa yang kita sampaikan di ruang digital tetap bisa berdampak kepada orang lain. Karena itu, sebelum mengetik atau menyampaikan sesuatu, penting untuk mempertimbangkan batas dan perasaan orang yang menerimanya,” ungkap Sayyid.
Dosen pembimbing, Maurish, menyampaikan bahwa topik yang diangkat tim JARVIS sangat erat kaitannya dengan kondisi saat ini. Menurutnya, media sosial ibarat pisau bermata dua—bisa menjadi alat yang bermanfaat, tetapi juga dapat menimbulkan dampak negatif jika tidak digunakan dengan bijak.
“Tidak setiap orang memiliki persepsi yang sama tentang penulisan. Hal yang baik bisa menjadi salah, sementara yang salah bisa digiring menjadi benar. Karena itu, edukasi mengenai consent dan batas dalam berkomunikasi di ruang digital menjadi sangat relevan,” ujarnya.
Setelah dinyatakan lolos sebagai finalis LIDM 2026, Tim JARVIS tidak berhenti pada pencapaian di tahap kompetisi. Sebagai bentuk keberlanjutan karya, tim merencanakan kolaborasi bersama Unit Layanan Konseling Terpadu (ULKT) FILKOM UB untuk memberikan edukasi mengenai consent dan batas dalam berinteraksi. Tim juga akan mengembangkan website Consent Over Words sebagai ruang informasi sekaligus wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan keluh kesah dan pengalaman yang berkaitan dengan isu tersebut.
Edukasi secara langsung turut dilakukan melalui photobooth campaign yang mengajak masyarakat mengenal lebih dekat pesan “Pikir Sebelum Ketik”. Sementara itu, masyarakat dapat mengikuti pre-test dan post-test melalui clips.biz.id/Survei-Poster-Dampak-ConsentOverWords untuk melihat perubahan pemahaman setelah mendapatkan edukasi mengenai consent dan batas dalam berinteraksi. Hasil pengisian form tersebut menjadi salah satu indikator untuk melihat dampak edukasi yang diberikan melalui kampanye Consent Over Words.
Melalui rangkaian tindak lanjut tersebut, Tim JARVIS berharap Consent Over Words dapat memberikan dampak yang lebih luas di luar kompetisi. Pesan “Pikir Sebelum Ketik” diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih sadar terhadap batas, menghargai satu sama lain, dan menciptakan ruang interaksi yang lebih aman, baik secara digital maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Karya Consent Over Words turut membawa semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 5 (Gender Equality) dan SDG 10 (Reduced Inequalities), melalui upaya meningkatkan kesadaran mengenai consent, batas pribadi, serta pentingnya membangun ruang interaksi yang aman dan inklusif. (rr/wu)
#Universitas Brawijaya_SDG5, #Universitas Brawijaya_SDG10