FILKOM UB Perkuat Internasionalisasi melalui Mahasiswa Asing Penerima BISS

FILKOM UB Perkuat Internasionalisasi melalui Mahasiswa Asing Penerima BISS

dok. PSIK FILKOM UB
(Kiri atas) Ketua IRO FILKOM UB, M. Ali Fauzi, S.Kom., M.Kom., Ph.D., bersama Elyas Gamil Abdulmomen Alafory (Yaman).
(Kanan atas) Andry Njakatiana Anthonio (Madagaskar).
(Kiri bawah) Sibgah Nadeem (Pakistan).
(Kanan bawah) Eric Bukari (Ghana).

Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) terus memperkuat internasionalisasi kampus melalui kehadiran mahasiswa asing penerima Brawijaya International Student Scholarship (BISS). Program ini telah berjalan selama beberapa tahun terakhir, dengan penerima dari berbagai angkatan yang kini aktif berkuliah di FILKOM UB.

Untuk angkatan 2026, terdapat Elyas Gamil Abdulmomen Alafory asal Taiz, Yaman (S1 Sistem Informasi); Eric Bukari asal Ghana (S2 Ilmu Komputer); serta Sibgah Nadeem asal Pakistan (S2 Ilmu Komputer).

Sementara itu, penerima BISS angkatan 2024 yang telah menempuh studi selama 2 tahun di FILKOM UB adalah Andry Njakatiana Anthonio asal Madagaskar (S1 Sistem Informasi), Andriamalala Laurent asal Madagaskar (S2 Ilmu Komputer), dan Naveed Toofani asal Afganistan (S2 Ilmu Komputer). Adapun Alper Basar asal Turki (S2 Ilmu Komputer) merupakan penerima BISS angkatan 2025.

Elyas Gamil Abdulmomen Alafory mengungkapkan alasannya memilih FILKOM UB karena prospek cerah di bidang teknologi serta ekosistem belajar yang mendukung mahasiswa asing.

“Pendidikan teknologi di FILKOM UB memberikan landasan kuat untuk karier masa depan. Setelah menyelesaikan bulan pertama studi, iklim pembelajarannya melebihi ekspektasi saya. Dosen mengajar dengan sangat baik, dan teman-teman sekelas sangat ramah membantu proses adaptasi,” tutur Elyas.

Mahasiswa asal Yaman ini bersyukur karena dapat melaksanakan sholat lima waktu di Masjid Raden Patah UB. Ia juga mengaku sempat menghadapi tantangan adaptasi budaya dan kuliner pedas khas Indonesia pada minggu awal kepindahannya. Kini ia justru menggemari soto dan aktif mempelajari kosakata bahasa Indonesia harian. Elyas bertekad membawa pulang ilmu dari FILKOM UB untuk membangun solusi berbasis teknologi atas berbagai tantangan di negaranya.

Semangat serupa ditunjukkan oleh Andry Njakatiana Anthonio, awardee BISS asal Madagaskar yang memilih International Undergraduate Program in Information Systems. Kurikulum berstandar internasional serta fasilitas pembelajaran modern di fakultas menjadi fondasi utama dalam membentuk kapasitas teknisnya.

Selain aktif secara akademik, Andry juga mengukir prestasi di kancah nasional dengan meraih Juara III pada kompetisi bahasa Telkom University Language Festival (LAFEST) 2026 untuk kategori Mendeskripsikan Gambar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Festival yang diinisiasi oleh Telkom University Language Center (LaC) ini mengusung tema “Empowering Global Communication in the Era of Safe AI”. Setelah melewati babak penyisihan daring sejak 7 April 2026, Andry melaju ke babak final yang digelar secara luring di Kampus Telkom University, Bandung, pada 21 Mei 2026, tempat ia ditantang untuk mendeskripsikan visual bertema “Indonesian in Words” yang kaya nilai kultural. Penilaian dewan juri mencakup kejelasan suara, ketepatan pengucapan, penggunaan kalimat efektif, kekayaan kosakata, hingga kesesuaian interpretasi gambar dengan konteks budaya lokal.

“Menjadi mahasiswa asing di Indonesia memberikan saya kesempatan luar biasa untuk belajar. Kompetisi ini memotivasi saya untuk terus mengasah kemampuan bahasa Indonesia dan memahami makna budaya Indonesia. Terima kasih kepada FILKOM UB atas dukungannya,” ungkap Andry perihal capaiannya di LAFEST 2026.

Andry menambahkan, diterima sebagai awardee BISS memacu dia untuk belajar lebih sungguh-sungguh, meningkatkan kapasitas akademik, serta aktif dalam international student community. Ia juga berharap dapat menjadi jembatan diplomasi budaya antara Madagaskar, Indonesia, dan kancah global.

Dalam adaptasinya, Elyas bercerita bahwa ia tinggal di asrama bersama sekitar 50 hingga 80 mahasiswa internasional lainnya. Ia mengaku adaptasi di awal sempat sulit, terutama karena perbedaan budaya dan kendala jaringan internet. Namun, kini ia merasa lebih nyaman.

“Makanan di sini mudah untuk diadaptasi. Saya coba sedikit demi sedikit, dan lama-lama jadi suka. Saya sudah mencoba soto dan rasanya juga enak. Budaya di sini sangat berbeda, Saya tertarik untuk terus mempelajarinya,” ujar Elyas.

Andry juga berbagi pengalaman kulinernya. Ia menggemari bakso, serta nasi campur dengan sayur, telur dadar, tahu, dan sup. Ia juga sering membeli nasi Padang dengan ayam goreng dan perkedel.

“Tantangan pertama saya adalah makanan Indonesia yang cukup pedas. Di Madagaskar kami juga makan sambal, tapi tidak sesering dan sepedas di sini. Waktu itu saya pesan level 1, tapi sudah cukup pedas,” jelas Andry sambil tertawa.

Ketua International Relations Office (IRO) FILKOM UB, M. Ali Fauzi, S.Kom., M.Kom., Ph.D., menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa asing memberikan dampak positif bagi fakultas, termasuk kontribusi terhadap pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) universitas.

“Kehadiran mereka meningkatkan kualitas pembelajaran, membuka peluang kolaborasi riset dan publikasi internasional, serta mempersiapkan mahasiswa lokal untuk bersaing di dunia kerja global,” ujarnya.

Ali menambahkan bahwa interaksi lintas budaya di ruang kelas mendorong mahasiswa lokal untuk berpikir lebih terbuka dan adaptif. Menurutnya, keberagaman ini menjadi bekal penting bagi lulusan FILKOM UB yang akan bekerja di lingkungan global.

Kehadiran serta deretan pencapaian mahasiswa mancanegara ini menjadi bukti komitmen Universitas Brawijaya dalam menghadirkan lingkungan akademik berstandar global. Inisiatif strategis ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 10 (Reduced Inequalities), serta SDG 17 (Partnerships for the Goals). (rr)

#Universitas Brawijaya_SDG4, #Universitas Brawijaya_SDG8, #Universitas Brawijaya_SDG10, #Universitas Brawijaya_SDG17