Kolaborasi FILKOM UB, FISIP UB, dan FPSI UM Raih Tiga Penghargaan ISF 2026 untuk Inovasi Kesehatan Mental Komunitas Menghadapi Bencana Alam

Kolaborasi FILKOM UB, FISIP UB, dan FPSI UM Raih Tiga Penghargaan ISF 2026 untuk Inovasi Kesehatan Mental Komunitas Menghadapi Bencana Alam

dok. Pribadi
Nathanael Kevin Irwanto (kiri) bersama Nadiyanti Centrina Alifah Setiyawan dan Fransisca Gisella Ayu Rahmadani menunjukkan penghargaan yang diraih dalam ajang International Student Festival (ISF), yakni Favorite Paper, Gold Medal, dan 1st Winner, di Hall Lantai 3 Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, Sabtu (4/7/2026).

Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) angkatan 2024, Nathanael Kevin Irwanto, bersama tim kolaborasi lintas kampus dan lintas disiplin meraih tiga penghargaan bergengsi pada ajang International Student Festival (ISF) 2026 di Lombok, Nusa Tenggara Barat (4–6 Juli 2026). Juara 1 (1st Winner), Medali Emas (Gold Medal) pada Subtema Health, dan Paper Terfavorit (Favorite Paper). 

ISF 2026 merupakan kompetisi karya ilmiah internasional yang diselenggarakan melalui kerja sama antara Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) dan Fakultas Pertanian Universitas Nahdlatul Wathan (UNW). Pada babak final, delegasi FILKOM UB bersaing dengan finalis dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Pertahanan (UNHAN), dan President University. Keikutsertaan universitas-universitas terkemuka Indonesia ini menunjukkan bahwa ISF 2026 adalah platform bergengsi untuk mengukur kualitas inovasi akademik dengan standar internasional.

Kevin bersama tim membawakan karya ilmiah berjudul “RESILIA: Enhancing Natural Disaster Resilience through Gamified Psychological First Aid as a Mental Health Risk Reduction Strategy in ASEAN.” Konsep ini merepresentasikan inovasi konkret yang mengubah tantangan sosial menjadi solusi teknologi yang berangkat dari kenyataan bahwa penanganan bencana alam di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara selama ini masih menitikberatkan pada logistik fisik dan infrastruktur. Padahal, luka psikologis seperti trauma akut, kepanikan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) kerap menjadi dampak tersembunyi yang lambat tertangani. Keterbatasan tenaga profesional kesehatan mental serta minimnya pemahaman dasar mengenai Pertolongan Pertama Psikologis (Psychological First Aid/PFA) di tingkat keluarga dan komunitas turut memperlebar kesenjangan intervensi kesehatan mental pascabencana.

dok. Pribadi
Nathanael Kevin Irwanto menerima piala dan sertifikat penghargaan Favorite Paper dalam ajang International Student Festival (ISF) yang diselenggarakan di Hall Lantai 3 Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, Sabtu (4/7/2026).

Melalui RESILIA, tim merancang pendekatan berbasis teknologi informasi dan gamifikasi untuk mentransformasikan materi PFA menjadi simulasi interaktif yang accessible dan engaging bagi publik luas. Alih-alih berupa pedoman teks yang kaku, RESILIA mengemas edukasi kesiapsiagaan mental melalui skenario pengambilan keputusan (decision-making scenario) yang kontekstual—melatih kepekaan dan ketahanan mental masyarakat secara preventif, mulai dari fase sebelum bencana, saat krisis terjadi, hingga tahap pemulihan awal. Pendekatan gamifikasi ini penting secara psikologis: tidak hanya membuat pembelajaran lebih menarik, tetapi juga mengaktifkan empati embodied—peserta belajar melalui pengalaman simulasi yang mendekatkan mereka pada kondisi nyata yang mungkin mereka hadapi, sehingga pembelajaran lebih mendalam dan bertahan lama dibandingkan dengan edukasi pasif.

RESILIA adalah hasil kolaborasi Kevin bersama empat mahasiswa lintas kampus dan lintas disiplin ilmu. Dari UB, kolaborasi melibatkan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB: Anindya Naura Rahmadani dan Fahdina Nur Rahma dari Program Studi Hubungan Internasional. Sementara dari Universitas Negeri Malang (UM), tim dikomplementasikan oleh Fransisca Gisella Ayu Rahmadani dan Nadiyanti Centrina Alifah Setiyawan dari Fakultas Psikologi (FPSI) UM, Program Studi Psikologi.

Penyusunan karya didampingi Dr. Tibyani, S.T., M.T. dari FILKOM UB, bersama dosen pendamping lintas bidang Dr. Helga Graciani Hidajat, S.Pd., M.A., dan Rizka Fibria Nugrahani, S.Psi., M.Si dari FPSI UM. Kolaborasi tiga disiplin ini bukan sekadar “menambah anggota tim.” Sistem informasi dari FILKOM UB menyediakan fondasi teknologi dan desain interaktif; psikologi dari FIS UM menyediakan kedalaman pemahaman trauma dan resiliensi mental; hubungan internasional dari FISIP UB menyediakan perspektif regional ASEAN dan policy context yang lebih luas. Integrasi ketiga bidang ini menghasilkan solusi yang teknis, psikologis, dan secara sosiologis dan politis relevan sebagai persyaratan untuk inovasi sosial yang scalable dan berkelanjutan.

Kevin bersyukur atas pencapaian luar biasa yang diraih bersama timnya dalam kompetisi tingkat internasional. Dalam mengungkapkan rasa syukur ini, ia menekankan bahwa kesuksesan RESILIA bukan hasil kerja individual, melainkan kolaborasi yang solid dari berbagai disiplin ilmu dan institusi yang saling melengkapi.

“Kami bersyukur ide RESILIA mendapat apresiasi dari dewan juri internasional. Teknologi sistem informasi seperti ini memiliki potensi besar dalam memperluas edukasi kesiapsiagaan mental masyarakat saat menghadapi bencana. Terima kasih kepada rekan-rekan, para dosen pembimbing, dan pimpinan FILKOM UB atas arahan dan dukungannya,” ujarnya.

Prestasi Kevin dan tim memiliki implikasi strategis untuk FILKOM UB. Dalam era di mana teknologi informasi kerap diasosiasikan dengan enterprise systems atau fintech, RESILIA menunjukkan bahwa keahlian SI dapat dan seharusnya digunakan untuk addressing urgent social challenges—dalam hal ini, kesehatan mental dan resiliensi komunitas menghadapi bencana. Penghargaan internasional ini juga merupakan validasi bahwa kurikulum FILKOM UB—khususnya dalam systems thinking, human-centered design, dan problem formulation—berhasil mempersiapkan mahasiswa tidak hanya untuk thinking beyond technology, melainkan juga untuk thinking about impact dan social relevance.

Kolaborasi lintas universitas ini juga menunjukkan pentingnya ecosystem collaboration di tingkat regional. Universitas Brawijaya (melalui FILKOM UB dan FISIP UB) dan Universitas Negeri Malang (melalui FIS UM) dapat saling melengkapi keahlian untuk menciptakan solusi yang lebih komprehensif. Model ini diharapkan menginspirasi institusi pendidikan lainnya di Indonesia untuk mengedepankan kolaborasi holistik dalam menghadapi grand challenges global.

Prestasi ini selaras dengan dua Sustainable Development Goals (SDG): SDG 3 (Good Health and Well-Being)—inovasi RESILIA secara langsung berkontribusi pada upaya global untuk meningkatkan akses terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis masyarakat, khususnya di komunitas yang rentan terhadap bencana alam. SDG 17 (Partnerships for the Goals)—Kolaborasi lintas kampus dan lintas disiplin ilmu yang menghasilkan RESILIA mendemonstrasikan power of multi-stakeholder partnerships dalam menciptakan solusi komprehensif terhadap persoalan global yang kompleks. Bagi FILKOM UB, dua SDG ini bukan sekadar naratif, melainkan praktik operasional yang sedang dijalankan melalui skema mentoring, cross-university collaboration, dan emphasis pada problem-driven innovation dalam kurikulum dan program ekstrakurikuler.

Selamat kepada Nathanael Kevin Irwanto dan timnya atas pencapaian luar biasa ini. RESILIA bukan hanya penelitian yang memenangkan kompetisi, tetapi juga proof of concept bahwa teknologi sistem informasi, ketika dikombinasikan dengan empati dan kolaborasi lintas disiplin, dapat menjadi instrumen change-making yang powerful di era krisis global. (rr/nk)