FILKOM UB Inisiasi Kolaborasi Riset dengan FK-UB, Kembangkan Medical Learning Advisory System dan Rancang Bangun Simulator untuk Mahasiswa PPDS Anestesiologi-Terapi Intensif

Dwija Wisnu Brata, S.ST., M.T. (kiri), bersama Dr. Tibyani, S.T., M.T., Dr. dr. Aswoco Andyk Asmoro, Sp.An, FIPM., dan dr. Alfan Rizki Nur Rohman, Sp.An-TI., di depan Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif RSSA dr. Saiful Anwar Malang, Kamis (27/8/2026).
Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) menginisiasi kolaborasi riset dengan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK-UB) di bidang medical learning advisory system dan rancang bangun simulator bagi mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (Sp.An-TI). Pertemuan awal berlangsung di RSSA dr. Saiful Anwar Malang, Kamis (27/8/2026).
FILKOM UB diwakili Dr. Tibyani, S.T., M.T. dan Dr Dwija Wisnu Brata, S.ST., M.T., keduanya peneliti Program Studi Teknologi Informasi FILKOM UB, sementara FK-UB diwakili Dr. dr. Aswoco Andyk Asmoro, Sp.An, FIPM., dan dr. Alfan Rizki Nur Rohman, Sp.An-TI.
Tibyani membawa fokus riset yang telah ia kembangkan, yakni sistem penasihat pembelajaran berbasis algoritma SOM-m-AT, yang sebelumnya dirancang untuk membantu guru sekolah dasar kelas satu di Jepang memetakan pola belajar siswa. Sistem ini memungkinkan guru mengenali siswa dengan capaian belajar terendah dalam satu kelas serta memahami kedekatan karakteristik belajar antar siswa, sehingga rekomendasi pembelajaran yang diberikan lebih tepat sasaran, dengan mengolah 13 fitur data pembelajaran siswa.
Novelty algoritma SOM-m-AT ini merupakan temuan Tibyani bersama tim pada 2024–2025, berupa integrasi algoritma Self-Organizing Map (SOM) dengan struktur m-AT untuk menghasilkan pemetaan topologis dua dimensi sekaligus ukuran kemiripan eksplisit antarsiswa — sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh SOM konvensional. Temuan ini telah dipublikasikan di International Journal of Mathematics and Computer Science Volume 20, Edisi 4 (2025), terindeks di Scopus Q3, dengan judul “Learning-Advisory System Based on Students’ Similarity” menggunakan data log Monsakun dari Learning Engineering Laboratory, Hiroshima University, Jepang, di bawah bimbingan Prof. Tsukasa Hirashima. Riset ini sebelumnya telah diberitakan oleh FILKOM UB.
“Novelty algoritma SOM-m-AT yang saya miliki ini akan diimplementasikan pada sistem penasihat pembelajaran bagi mahasiswa PPDS An-TI — inilah yang menjadi tujuan utama kolaborasi ini,” ujar Tibyani.

Tim FILKOM UB dan FK-UB berfoto bersama dengan tampilan simulator monitor pasien yang tengah dikembangkan, dalam pertemuan awal kolaborasi riset di RSSA dr. Saiful Anwar Malang, Kamis (27/8/2026).
Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSSA dr. Saiful Anwar Malang mencatat tren peningkatan kunjungan pasien gawat darurat dari tahun ke tahun: 17.029 kunjungan pada 2021, meningkat menjadi 22.100 kunjungan pada 2022, dan mencapai 25.620 kunjungan pada 2023. Peningkatan ini disertai bertambahnya jumlah pasien dengan kondisi kritis yang menuntut penanganan cepat dan tepat sejak menit-menit pertama kedatangan.
Bertambahnya beban layanan ini belum sepenuhnya diimbangi capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk indikator angka kematian pasien dalam waktu kurang dari 24 jam, dengan tingkat mortalitas tercatat 6,02 persen — terutama pada pasien prioritas 1 seperti henti jantung dan syok, yang umumnya membutuhkan perawatan intensif lanjutan di ICU. Kesenjangan ini menegaskan bahwa ketepatan diagnosis kegawatdaruratan serta tatalaksana komprehensif pada fase awal menjadi penentu utama luaran pasien.
Ketepatan tindakan dalam situasi kritis tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui pendidikan yang profesional, terstruktur, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Residen Anestesiologi dan Terapi Intensif dituntut memiliki sense of crisis — kepekaan klinis untuk mengenali kondisi pasien secara dini, mengambil keputusan di bawah tekanan waktu, dan mengeksekusi tindakan resusitasi secara runtut. Kemampuan ini sulit dilatih semata-mata lewat paparan kasus nyata, karena kemunculan kasus kritis tidak dapat diprediksi dan ruang belajar dari kesalahan sangat terbatas oleh pertimbangan keselamatan pasien.
Kebutuhan inilah yang mendorong usulan pengembangan simulator monitor pasien berbasis web, sebagai media pelatihan sense of crisis bagi residen Anestesiologi dan Terapi Intensif di lingkup IGD, ICU, dan kamar operasi. Basis web dipilih agar simulasi dapat diakses melalui perangkat yang sudah tersedia tanpa memerlukan investasi manekin bernilai tinggi, sehingga latihan dapat dilakukan berulang, terjadwal, dan merata bagi seluruh peserta didik.
Simulator yang dirancang bukan merupakan alat medis dan tidak digunakan untuk pasien atau pengambilan keputusan klinis yang sungguhan, melainkan murni sebagai sarana simulasi dan pelatihan. Beberapa fitur utamanya meliputi: pasien virtual yang dapat bereaksi terhadap tindakan, skenario yang berkembang secara bercabang sesuai keputusan mahasiswa PPDS An-TI, kondisi vital yang berubah secara bertahap, sistem early warning yang mendeteksi tanda semakin memburuk, serta perekaman seluruh proses untuk kepentingan evaluasi dan debriefing.
Keunggulan utama rancangan ini adalah penekanan pada kemampuan membaca tren, bukan sekadar bereaksi terhadap angka yang telah melewati batas kritis — melatih mahasiswa mengenali proses semakin memburuk sejak fase awal dan bertindak antisipatif. Sistem juga memungkinkan pengukuran skor NEWS2, MEWS, qSOFA, dan SIRS secara waktu nyata, disertai metrik waktu mulai dari munculnya peringatan awal hingga mahasiswa mengenali perburukan, melakukan pemeriksaan terarah, meminta bantuan, dan memberikan terapi definitif. Pendekatan ini menjadikan sense of crisis — yang selama ini sulit diamati dan dinilai — dapat dioperasionalkan menjadi indikator pembelajaran yang lebih terukur.
Karena skenario klinis dirancang benar-benar bercabang, keputusan yang tepat dapat membawa pasien virtual menuju perbaikan, sedangkan keterlambatan atau ketidaktepatan tindakan dapat menyebabkan kondisinya terus memburuk — sehingga simulasi tidak sekadar menjadi pertunjukan dengan alur yang sudah ditentukan sebelumnya. Hasil simulasi dapat disimpan dan digunakan dalam proses debriefing lewat rekaman lintasan tanda vital, skor, waktu kejadian, dan tindakan mahasiswa, sehingga pendidik dan mahasiswa dapat kembali ke momen kritis untuk mendiskusikan apa yang terlihat, dipikirkan, dan diputuskan pada saat itu.
Rancang bangun ini dinilai semakin relevan bagi RSSA dr. Saiful Anwar Malang, mengingat kebutuhan pembelajaran simulasi yang terintegrasi dan terstandar untuk IGD, ICU, dan kamar operasi, perlu diperkuat lewat media serta prosedur operasional pembelajaran yang konsisten. Simulator ini diharapkan menjadi landasan pengembangan ekosistem pelatihan simulasi yang mendukung penyusunan SOP, standardisasi skenario kegawatan, pengukuran respons mahasiswa, dan pelaksanaan debriefing yang lebih sistematis — pada akhirnya memperkuat kesiapan mahasiswa PPDS An-TI dalam mengenali krisis lebih dini, mengambil keputusan lebih terstruktur, serta membangun budaya keselamatan pasien.
Kolaborasi riset ini selaras dengan SDG 3 – Kehidupan Sehat dan Sejahtera, lewat penguatan mutu pendidikan tenaga medis yang berdampak langsung pada keselamatan pasien gawat darurat, serta SDG 4 – Pendidikan Berkualitas, lewat pengembangan media pembelajaran inovatif yang memperkuat kompetensi klinis mahasiswa pendidikan dokter spesialis. (rr/tib)