Menuju Indonesia Emas 2045: Dekan FILKOM UB Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan di Era Artificial Intelligence

Era disrupsi teknologi digital saat ini menuntut pergeseran cara pandang yang fundamental dalam dunia pendidikan nasional. Pandangan ini ditegaskan oleh Dekan Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (FILKOM UB), Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM., dalam penyampaian materi bertepatan dengan acara Konsinyering Demo Day Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) 2026 yang diselenggarakan di Grand Mercure Malang Mirama, pada Rabu, 17 Juni 2026. Pergeseran paradigma tersebut dinilai sangat krusial guna merespons sekaligus menjawab tantangan disrupsi ganda di kancah global.
Dalam paparannya yang bertajuk “Reorientasi Arah Pendidikan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045 di Era Artificial Intelligence (AI): Dari Bonus Demografi Menuju Bonus Talenta”, Dekan FILKOM UB menekankan bahwa momentum menuju Indonesia Emas 2045 terjadi bersamaan dengan disrupsi masif kecerdasan artifisial. Kondisi ini mengubah definisi keunggulan manusia secara radikal.
Kehadiran AI telah mengotomasi berbagai pekerjaan berbasis informasi. Oleh karena itu, sistem pendidikan tidak boleh lagi sekadar berfokus pada metode knowledge acquisition atau transfer pengetahuan, melainkan harus bergeser ke arah capability development untuk menghasilkan inovator, problem solver, dan lifelong learner.
Pergeseran mendasar ini dimulai dengan menitikberatkan pada pengembangan kapabilitas (capability development) untuk melatih kesiapan, kepercayaan diri, dan adaptabilitas lulusan dalam menghadapi situasi baru yang tidak terstruktur. Berbekal kapabilitas tersebut, lulusan dituntut untuk bertindak sebagai inovator (innovator) yang mampu menciptakan nilai tambah (value creation) baru melalui sentuhan pemikiran orisinal manusia, alih-alih sekadar menjadi pengguna pasif teknologi.
Selain itu, ketajaman nalar kritis dalam mengurai tantangan rumit akan membentuk karakter mereka sebagai pemecah masalah (problem solver) yang andal dalam mengkolaborasikan logika manusia dengan kekuatan komputasi. Seluruh ekosistem kompetensi ini kemudian dikunci oleh kesadaran untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner) yang memiliki dorongan internal kuat untuk terus memperbarui keterampilan secara modular demi mengimbangi profesi masa depan yang terus berubah.
“Jumlah penduduk usia produktif yang melimpah tidak serta-merta menghasilkan keuntungan ekonomi. Visi besar bangsa hanya akan tercapai jika Indonesia mampu mengonversi bonus demografi menjadi bonus talenta melalui pendidikan berkualitas dan penguasaan kompetensi masa depan di semua jenjang. Yang perlu kita perhatikan, dunia kerja global saat ini telah bergeser ke arah skills-based hiring, sebuah ekosistem yang menilai kandidat berdasarkan kapasitas riil dan portofolio, bukan semata-mata mengandalkan ijazah di atas kertas. Dengan adanya tren ini, perguruan tinggi dituntut untuk bertransformasi dari teaching university menuju research and innovation university yang adaptif terhadap perkembangan sains, teknologi, dan technopreneurship. Tentu, transformasi tersebut menuntut kematangan proses belajar mengajar (PBM) sehingga perguruan tinggi memiliki sumber daya manusia yang cukup untuk pengembangan riset dan inovasinya, khususnya yang melibatkan mahasiswa sebagai aktor utamanya.” tegas beliau.
Beliau menambahkan, pemanfaatan Generative AI (GenAI) di lingkungan kampus juga menjadi sorotan penting. Alat bantu berbasis kecerdasan artifisial harus diposisikan sebagai akselerator pembelajaran tanpa menggantikan nalar akademik manusia.
Implementasi regulasi yang adaptif melalui pembaruan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) serta pergeseran metode asesmen berbasis proses dan portofolio menjadi prasyarat utama untuk menjaga integritas akademik. Pada akhirnya, transformasi pendidikan bukan lagi sekadar pilihan operasional, melainkan sebuah agenda strategis dan investasi kedaulatan nasional demi meningkatkan daya saing bangsa di panggung internasional. (rr/tak)