ULKT FILKOM UB Gelar Upgrading Konselor Sebaya Tahap Terakhir

Ketua ULKT FILKOM UB, Yuita Arum Sari, S.Kom., M.Kom., Ph.D., menyampaikan sambutan pembuka pada pelatihan Upgrading Konselor Sebaya tahap terakhir, Kamis (3/9/2026), di Gedung Kreativitas Mahasiswa (GKM) FILKOM UB
.Unit Layanan Konseling Terpadu (ULKT) Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) menggelar pelatihan Upgrading Konselor Sebaya (Peer Counselor) tahap terakhir pada Kamis, 3 September 2026, di Gedung Kreativitas Mahasiswa (GKM) FILKOM UB. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi dan interpersonal serta memberikan pemahaman tentang berbagai aspek konseling.
Pelatihan ini merupakan kelanjutan dari program Konselor Sebaya “Rekan Melangkah” yang telah berjalan sebelumnya. Acara dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, perwakilan Dharma Wanita Persatuan (DWP) FILKOM UB, serta pemateri dari bidang keperawatan jiwa dan psikologi.
Ketua ULKT FILKOM UB, Yuita Arum Sari, S.Kom., M.Kom., Ph.D., menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan komitmen berkelanjutan fakultas dalam menyediakan ruang aman (safe space) bagi mahasiswa.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa FILKOM UB, Dr.Eng. Budi Darma Setiawan, S.Kom., M.Cs., memberikan sambutan sekaligus membuka acara pelatihan Upgrading Konselor Sebaya tahap terakhir, Kamis (3/9/2026), di Gedung Kreativitas Mahasiswa (GKM) FILKOM UB
Dukungan penuh dari DWP FILKOM UB disampaikan oleh perwakilan DWP, Sumarah Noor Widyastuti. Ia menyatakan bahwa DWP siap berkolaborasi dan menyediakan ruang pendampingan bagi mahasiswa yang membutuhkan tempat untuk bertukar cerita.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa, Dr.Eng. Budi Darma Setiawan, S.Kom., M.Cs., mengapresiasi para peserta yang bersedia menjadi konselor sebaya.
“Keterampilan konseling yang diperoleh peserta tidak hanya bermanfaat saat mendampingi rekan di perkuliahan, tetapi juga menjadi bekal kepemimpinan dan komunikasi yang penting saat memasuki dunia kerja,” ujar Budi Darma.
Pelatihan menghadirkan dua pemateri dengan tema yang saling melengkapi, yaitu “Pendalaman Keterampilan Peer Support pada Situasi yang Lebih Kompleks” dan “Menjaga Diri Saat Menolong Orang Lain: Penguatan Mental dan Self-Care bagi Konselor Sebaya”.
Sesi pertama dibawakan oleh Ns. Muhammad Sunarto, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J., yang mengupas tema pendalaman keterampilan peer support. Ia memaparkan bahwa kesehatan mental bukan sekadar tidak adanya gangguan jiwa, melainkan keadaan sejahtera yang memungkinkan seseorang menyadari kemampuannya, mengatasi tekanan hidup, dan bekerja secara produktif. Sebagai konselor sebaya, pemahaman tentang emosi dasar menjadi fondasi penting dalam pendampingan. Enam emosi dasar—marah, sedih, takut, senang, jijik, dan terkejut—bersifat universal dan dapat dikenali melalui ekspresi wajah. Kemampuan mengenali emosi pada diri sendiri dan orang lain menjadi bekal bagi konselor untuk hadir sebagai pendengar yang baik.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa menerima emosi, termasuk yang tidak menyenangkan, tanpa menghakimi terbukti lebih sehat dibandingkan dengan menekannya. Penerimaan emosi berkontribusi pada menurunnya gejala depresi dan kecemasan serta meningkatnya kesejahteraan psikologis. Di sisi lain, faktor risiko kesehatan mental mahasiswa seperti tekanan akademik, isolasi sosial, dan kesulitan beradaptasi perlu diwaspadai. Sebaliknya, faktor pelindung seperti jaringan sosial yang kuat, keterlibatan aktif, dan literasi kesehatan mental yang baik perlu terus diperkuat. Ia juga menyoroti bahwa stigma terhadap kesehatan mental masih menjadi penghalang utama bagi mahasiswa dalam mencari pertolongan, sehingga konselor sebaya berperan penting dalam edukasi anti-stigma melalui pendekatan yang humanis dan komunikasi yang terbuka. Pada akhirnya, konselor sebaya diharapkan menjadi ruang aman bagi teman—tempat berbagi tanpa takut dihakimi, dengan pendengar yang hadir sepenuhnya, sekaligus menjadi jembatan menuju bantuan profesional jika diperlukan.

Ns. Muhammad Sunarto, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J., Ketua Satuan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) Universitas Brawijaya sekaligus dosen Fakultas Ilmu Kesehatan, menyampaikan materi “Konselor Sebaya sebagai Safe Space bagi Teman” pada pelatihan Upgrading Konselor Sebaya tahap terakhir, Kamis (3/9/2026), di Gedung Kreativitas Mahasiswa (GKM) FILKOM UB.
Sesi kedua diisi oleh Ika Fitria, S.Psi., M.Psi., dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB, yang membawakan tema self-care bagi konselor sebaya. Ia mengawali dengan menjelaskan bahwa konselor sebaya adalah individu seusia dengan kedudukan yang sama, bukan profesional seperti psikolog atau konselor profesional. Mereka bertindak sebagai pendengar yang baik dengan mengandalkan empati dan kesamaan pengalaman hidup untuk membangun rasa aman serta saling memahami. Kompetensi yang diperlukan meliputi sikap tulus dan menerima, kepribadian yang hangat dan fleksibel, keterampilan mendengarkan aktif dan membangun hubungan, serta pengetahuan dasar tentang etika konseling.
Namun, ia juga mengingatkan tentang tantangan utama yang dihadapi konselor sebaya, yakni peran ganda antara membantu teman dan menjaga kesejahteraan diri sendiri. Tanpa batasan yang jelas, konselor sebaya berisiko mengalami kelelahan emosional, burnout, hingga trauma tidak langsung akibat terlalu sering terpapar cerita berat atau traumatis orang lain. Karena itu, ia menekankan bahwa self-care bukanlah tindakan egois, melainkan bagian dari tanggung jawab konselor sebaya. Ibarat gelas kosong, jika terus memberikan dukungan tanpa mengisi energi diri sendiri, konselor tidak akan mampu membantu secara optimal. Self-care mencakup aspek fisik, mental-emosional, dan profesional.
Ia juga menyoroti pentingnya ekosistem dukungan bagi konselor sebaya, yang meliputi supervisi dari ahli untuk bimbingan kasus sulit, jejaring sebaya untuk berbagi pengalaman dan saling memantau, serta terapi pribadi untuk menjaga kesehatan mental konselor itu sendiri. Pada akhir sesi, ia menegaskan bahwa merawat diri dan menerima dukungan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab etis. Hanya dari “tangki emosional” konselor yang terisi penuh, empati dan kehadiran utuh dapat mengalir kepada konseli.
Melalui pelatihan ini, FILKOM UB berharap para konselor sebaya dapat berperan aktif dalam menciptakan lingkungan kampus yang inklusif dan peduli terhadap kesehatan mental.
Program Upgrading Konselor Sebaya ini selaras dengan SDG 3 – Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan sistem pendukung kesehatan mental berbasis sebaya, serta SDG 4 – Pendidikan Berkualitas melalui pembekalan keterampilan yang menunjang kesiapan mahasiswa memasuki dunia kerja. (rr)