FILKOM UB Gulirkan Program Academic Buddy untuk Mendampingi Mahasiswa Disabilitas

Tangkapan layar kegiatan sosialisasi Program Academic Buddy
Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) menggelar Sosialisasi Program Academic Buddy, Senin (31/8/2026), secara daring, dipandu oleh Dwi Nur Indah Lestari, S.H., selaku pembawa acara. Program ini merupakan pendampingan akademik bagi mahasiswa disabilitas (madif) di lingkungan FILKOM UB agar mahasiswa disabilitas memperoleh hak dan kesempatan belajar yang setara.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam sosialisasi, terdapat 22 mahasiswa aktif penyandang disabilitas jenjang Sarjana (S1) di FILKOM UB periode 2021–2025, tersebar di lima program studi: Teknik Informatika (50%), Sistem Informasi (22,7%), Teknik Komputer (13,6%), Pendidikan Teknologi Informasi (9,1%), dan Teknologi Informasi (4,5%). Dari sisi jenis disabilitas, proporsinya terdiri atas tunarungu (63,6%), tunadaksa (31,8%), dan low vision (4,5%).
Ketua Pelaksana, Faizatul Amalia, S.Pd., M.Pd., menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa pendamping yang dilandasi kepedulian tulus, bukan sekadar menjalankan tugas teknis.
“Mari kita bayangkan sejenak apabila kita berada di posisi mereka. Pendampingan ini memanggil mahasiswa yang tergerak secara ikhlas tanpa pamrih. Kehadiran academic buddy akan menjadi jembatan agar rekan-rekan madif tidak merasa sendirian dalam menempuh masa perkuliahan,” ujar Faizatul.
Program Academic Buddy dijalankan lewat enam tahap yang berulang setiap semester: sosialisasi, rekrutmen, pelatihan (apabila memungkinkan), penugasan dan pendampingan, monitoring dan pelaporan, hingga evaluasi program. Hasil evaluasi tiap semester menjadi dasar perbaikan proses rekrutmen dan pelatihan pada periode berikutnya.
Pada sesi pemaparan, Yuita Arum Sari, S.Kom., M.Kom., Ph.D., menjelaskan mekanisme dan batasan program ini. Pasangan pendamping dan mahasiswa disabilitas bersifat tetap selama satu semester penuh demi membangun rasa percaya (trust) dan kedekatan komunikasi (chemistry) yang stabil. Selain itu, pendamping diwajibkan menjaga kerahasiaan data pribadi maupun diagnosis medis mahasiswa yang didampingi.
“Pendamping tidak boleh berganti-ganti selama satu semester demi kenyamanan madif. Seorang academic buddy bertugas membantu aspek teknis perkuliahan, seperti mengoperasikan fitur Speech-to-Text (STT) hingga mencatat ringkasan materi. Namun, mereka bukan pengganti dosen atau konselor, dan yang sangat krusial adalah wajib menjaga kerahasiaan data pribadi mahasiswa yang didampingi,” tegas Yuita.

Tangkapan layar kegiatan sosialisasi Program Academic Buddy
Sebagai panduan operasional, UB merilis dua buku saku resmi: Buku Saku Academic Buddy dan Buku Saku Mahasiswa Difabel, yang dapat diakses lewat tautan singkat masing-masing.
Program ini berlandaskan UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, serta Peraturan Rektor UB No. 135/SK/2012 tentang Pusat Studi Layanan Disabilitas.
Program Academic Buddy ini selaras dengan SDG 4 – Pendidikan Berkualitas, lewat penjaminan kesetaraan akses pembelajaran bagi mahasiswa disabilitas, serta SDG 10 – Berkurangnya Kesenjangan, lewat upaya konkret mewujudkan lingkungan kampus yang inklusif dan ramah disabilitas. (rr)