FILKOM UB Gelar Kuliah Tamu Bersama Praktisi Amazon Alexa, Bahas Implementasi LLM di Industri Teknologi

Wakil Dekan Bidang Akademik FILKOM UB, Sabriansyah Rizqika Akbar, S.T., M.Eng., Ph.D., menyampaikan sambutan dalam Kuliah Tamu FILKOM UB bersama Reza Ferrydiansyah, Rabu (19/8/2026).
Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) menggelar kuliah tamu bertajuk “Building Real-World AI Systems: Implementasi Large Language Models di Industri Teknologi”, Rabu (19/8/2026), di Mini Teater Heuristik, Gedung A Lantai 2 FILKOM UB. Acara dipandu oleh Annisa Rachmasari, S.E. sebagai pembawa acara, dengan Ir. Agus Wahyu Widodo, S.T., M.Cs. bertindak selaku moderator kuliah tamu kali ini.
Kuliah tamu ini menghadirkan Reza Ferrydiansyah, Senior Software Development Engineer di divisi Smart Home AI & Platform Engineering, Amazon Alexa, yang berbasis di Redmond, Washington, Amerika Serikat.
Acara dibuka dengan sambutan Ketua Laboratorium Sistem Cerdas FILKOM UB, Dr.Eng. Novanto Yudistira, S.Kom., M.Sc., yang memperkenalkan aktivitas laboratorium seputar riset kecerdasan buatan (AI) dan asistensi praktikum kepada mahasiswa baru.
“Di FILKOM itu ada Laboratorium Sistem Cerdas yang utamanya melakukan aktivitas-aktivitas baik asistensi praktikum maupun riset berkenaan dengan AI dan aplikasinya,” ujar Novanto.
Novanto turut menyinggung tantangan yang akan dihadapi mahasiswa baru ke depan: makin banyak peminat bidang ilmu komputer dan AI, sementara lapangan pekerjaan tidak selalu berbanding lurus dengan tingginya minat tersebut — sehingga jalur wirausaha atau membangun startup sendiri disebut sebagai salah satu opsi yang relevan untuk terus didorong.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik FILKOM UB, Sabriansyah Rizqika Akbar, S.T., M.Eng., Ph.D., yang menyampaikan apresiasi atas kesediaan Reza untuk hadir membagikan wawasan kepada mahasiswa.
Sabriansyah memanfaatkan momentum ini untuk memaparkan sejumlah kemitraan industri yang tengah dijajaki maupun berjalan di FILKOM UB, di antaranya kerja sama distribusi Cisco melalui Master Systems, program magang bersama Pertamina bertajuk Pertamina Camp, serta kolaborasi dengan BPJS Ketenagakerjaan, CIMB Niaga, dan Epson Indonesia. FILKOM UB turut menyebut sejumlah produk berbasis AI yang telah dihasilkan bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), meliputi sistem deteksi domain judi online untuk BPJS Ketenagakerjaan, model identifikasi desil kemiskinan bekerja sama dengan platform e-commerce, hingga program peningkatan teknologi pembelajaran di Sekolah Rakyat Malang.
Ia berharap kehadiran Reza dapat membuka peluang kerja sama strategis lebih lanjut antara FILKOM UB dengan Amazon maupun Alexa, khususnya di lini riset dan pengembangan.

Reza Ferrydiansyah menyampaikan materi dalam Kuliah Tamu FILKOM UB “Building Real-World AI Systems: Implementasi Large Language Models di Industri Teknologi”, Rabu (19/8/2026).
Reza, pria kelahiran Malang, mengawali perjalanan akademiknya di Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1996. Setelah meraih gelar sarjana dan sempat mengajar setahun di ITB, ia melanjutkan studi magister Health Information Systems di University of Pittsburgh atas rekomendasi dosennya, sebelum akhirnya menempuh program doktoral (S3) di bidang Computer Science Engineering di Michigan State University.
Masa studi lanjut di Amerika Serikat tersebut diakui Reza tidak lepas dari tantangan finansial dan adaptasi pola pikir riset, terlebih ia menjalani proses tersebut sembari membina keluarga hingga kedua anaknya lahir di sana. Kini, Reza beserta keluarga kecilnya telah menetap dan tinggal di Amerika Serikat.
Berbekal rekam jejak akademis tersebut, Reza mengukir karier profesional selama lebih dari 15 tahun dalam membangun sistem backend berskala besar. Sebelum bergabung dengan Amazon pada 2017, ia berkarier di Microsoft (2011–2017) dan turut membidani layanan suara Cortana serta fitur rapat Surface Hub.
Hampir sembilan tahun bertugas di divisi Alexa Smart Home Amazon, Reza berhasil memimpin inisiatif teknis yang memangkas biaya infrastruktur lebih dari jutaan dolar AS per tahun, serta merancang arsitektur microservices berbasis Large Language Model (LLM) yang melayani jutaan pengguna. Dalam keterangannya, Reza menjelaskan bahwa meski Alexa bersaing ketat dengan asisten pintar milik Google, kedua ekosistem tetap berinteroperasi secara harmonis melalui standar industri bernama Matter demi kenyamanan pengguna.
“Yang penting itu jangan hanya kuliah — kuliah itu tidak cukup. Oke, kamu dapat nilai A terus, great, tapi yang penting itu kamu pernah buat apa? Apalagi sekarang di informatika, relatif gampang kita membuat sesuatu — barrier of entry-nya tidak terlalu tinggi,” ujarnya.
Reza menambahkan bahwa proyek yang dibuat tidak harus berskala besar atau langsung sukses. Baginya, mahasiswa maupun profesional yang berhasil biasanya adalah mereka yang berani mencoba membangun sesuatu di luar bangku kuliah — sekalipun hasilnya belum sempurna.
“Kadang-kadang persoalan yang kecil mungkin tidak berhasil — misalnya kalian coba bikin robot, walau robotnya hanya berhasil memecahkan 80 persen dari tugasnya, yang penting tetap harus kalian coba,” pungkas Reza.

Ketua Panitia Kuliah Tamu, Yuita Arum Sari, S.Kom., M.Kom., Ph.D., Tirana Noor Fatyanosa, S.Kom., M.Kom., Ph.D., Ir. Agus Wahyu Widodo, S.T., M.Cs., narasumber Reza Ferrydiansyah, dan Dr.Eng. Novanto Yudistira, S.Kom., M.Sc. (kiri ke kanan) berfoto bersama pada kegiatan Kuliah Tamu FILKOM UB bertajuk “Building Real-World AI Systems: Implementasi Large Language Models di Industri Teknologi”, Rabu (19/8/2026).
Dalam kuliah tamu ini, Reza membahas konsep dasar large language model sebagai teknologi baru, cara memanggil LLM sebagai library dalam pengembangan perangkat lunak, serta tantangan khas dalam bekerja dengan LLM — mulai dari sifat non-deterministic, biaya dan latensi, hingga soal akurasi keluaran.
Salah satu konsep utama yang akan diperkenalkan adalah AI Harness — infrastruktur pendukung yang bertanggung jawab menyusun prompt, menyimpan konteks, mengelola alur kerja, hingga memeriksa keluaran LLM agar sesuai kebutuhan spesifik suatu produk. Reza turut membagikan studi kasus nyata dari pengembangan fitur Hunches di Alexa Smart Home — sistem yang mempelajari kebiasaan pengguna untuk secara otomatis mengatur perangkat rumah pintar, lengkap dengan pembahasan arsitektur harness, proses eksperimen model, hingga pertimbangan biaya operasional dalam skala produksi. (rr)