Dosen FILKOM UB Jadi Narasumber Webinar Nasional, Bedah Strategi Transformasi Digital Berkelanjutan

Keterlambatan jam operasional layanan publik akibat agenda internal hingga minimnya transparansi status pengurusan dokumen kerap menjadi keluhan mendasar masyarakat terhadap sistem pelayanan konvensional. Menjawab tantangan tersebut, akademisi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya, Mahendra Data, S.Kom., M.Kom., Ph.D., memaparkan pentingnya akselerasi transformasi digital dalam Webinar Nasional bertajuk “Blockchain, Cloud, dan Edge Computing: Membangun Ekosistem Digital yang Aman, Transparan, dan Berkelanjutan di Era Industri 5.0” pada Rabu (22/7/2026).
Kegiatan webinar nasional ini diinisiasi oleh Universitas Sains dan Teknologi Komputer (STEKOM), Semarang yang berkolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi serta asosiasi profesi di Indonesia. Sinergi lintas institusi ini dihadirkan sebagai ruang diskusi interaktif guna membahas perkembangan teknologi terkini dan dampaknya terhadap tata kelola ekosistem digital nasional.
Dalam pemaparannya yang berjudul “Transformasi Infrastruktur Digital melalui Integrasi Blockchain, Cloud, dan Edge Computing”, Data, demikian akrab di sapa, menjelaskan bahwa keluhan publik seperti proses yang lambat dan berbelit, layanan bersifat impersonal, duplikasi data, hingga respons yang lamban merupakan pendorong utama mengapa organisasi pemerintahan maupun swasta harus segera bertransformasi. Menurutnya, pemanfaatan teknologi mutakhir menjadi kunci untuk menciptakan tata kelola layanan yang transparan dan efisien.
Lebih lanjut menurutnya, perlu diluruskan pemahaman publik mengenai tiga tingkatan dalam evolusi teknologi digital agar organisasi tidak keliru dalam menetapkan strategi. Pertama, Digitisasi (Digitization): Konversi data analog menjadi format digital, seperti mengubah dokumen fisik kertas menjadi berkas PDF. Kedua, Digitalisasi (Digitalization): Pemanfaatan data digital untuk menyederhanakan dan mengotomatisasi alur proses kerja. Terakhir, ketiga, transformasi Digital (Digital Transformation): Integrasi teknologi secara menyeluruh yang mengubah strategi, model bisnis, kultur organisasi, hingga cara berinteraksi dengan pengguna layanan secara fundamental.
“Transformasi digital bukan sekadar memindahkan dokumen ke komputer, melainkan merancang ulang alur kerja (business process reengineering) dan membangun budaya berbasis data (data-driven culture),” ungkap Data.

Dalam sesi tanya jawab, Data menjawab pertanyaan terkait sejauh mana efektivitas pendekatan top-down transformasi digital di Indonesia, Data, menekankan bahwa keberhasilan tidak bisa hanya bergantung pada instruksi dari atas. Kunci utama keberlanjutan transformasi digital terletak pada kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) serta strategi eksekusi yang terukur di lapangan.
Ia menambahkan bahwa peningkatan kapasitas SDM melalui program upskilling dan reskilling menjadi syarat mutlak agar personel di setiap lini mampu beradaptasi dengan teknologi baru. Selain itu, untuk memitigasi risiko kegagalan sistem, implementasi teknologi sebaiknya dilakukan melalui tahap uji coba terbatas (pilot project) pada satu unit kerja terlebih dahulu sebelum diterapkan secara masif.
Melalui partisipasi aktif akademisi FILKOM UB dalam forum nasional ini, institusi terus menegaskan komitmennya dalam menyokong capaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) serta SDG 16 (Peace, Justice, and Strong Institutions) melalui pendorongan inovasi pelayanan publik yang transparan dan akuntabel. (rr)