ULKT dan SJW FILKOM UB Perkuat Penanganan Kekerasan dan Perundungan Lewat Workshop Peer Counselor Rekan Melangkah

Unit Layanan Konseling Terpadu (ULKT) Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) bekerja sama dengan Saling Jaga Warga (SJW) FILKOM UB yang digawangi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FILKOM UB, menyelenggarakan Workshop Peer Counselor bertajuk “Rekan Melangkah” pada hari Jumat, 29 Mei 2026, bertempat di Gedung F Lantai 4 FILKOM UB.
Acara resmi dibuka oleh Yuita Arum Sari, S.Kom., M.Kom., Ph.D., selaku Ketua ULKT FILKOM UB. Dalam sambutannya, Yuita Arum Sari mewakili Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa FILKOM UB, Dr. Eng. Budi Darma Setiawan, S.Kom., M.Cs., yang berhalangan hadir.

Dalam pembukaan tersebut, Yuita Arum Sari menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh panitia dari SJW dan ULKT FILKOM UB atas kolaborasi yang terus berjalan konsisten. Workshop ini ditujukan bagi para konselor sebaya (peer counselor), perwakilan LOF, serta pendamping mahasiswa disabilitas di lingkungan FILKOM UB. Melalui sambutannya, ia menekankan bahwa workshop ini merupakan langkah awal yang krusial bagi para peserta sebelum nantinya menempuh proses kelulusan (graduation) sebagai konselor sebaya resmi. Setelah sesi materi ini, para peserta akan mendapatkan kesempatan magang untuk melakukan konseling terbatas dan terarah, sebelum akhirnya dievaluasi kembali pada saat kelulusan agar mereka benar-benar siap mendampingi sesama mahasiswa yang menghadapi kendala psikologis.
“Peer counselor rekan melangkah hadir untuk menjadi tempat curhat yang aman bagi sesama mahasiswa.” Ujar Yuita.
Memasuki sesi materi pertama, Ulifa Rahma, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang merupakan seorang psikolog klinis sekaligus akademisi di bidang psikologi, memaparkan materi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental selama masa studi. Ia menjelaskan konsep kesejahteraan psikologis sebagai kemampuan individu dalam mengelola stres, berinteraksi positif, serta berfungsi efektif dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, dipaparkan pula materi mendalam mengenai manajemen stres, pengenalan self-awareness, penerapan growth mindset, hingga keterampilan mikro (micro skills) dan tahapan dalam proses konseling. Keterampilan dasar seperti teknik mengamati (client observation skill), perilaku menghampiri (attending behaviour), empati, hingga teknik komunikasi (paraphrasing dan clarifying) menjadi poin penting yang harus dikuasai oleh seorang konselor sebaya dalam memberikan dukungan awal yang aman.
Selain memaparkan strategi pengelolaan stres, Ulifa Rahma secara mendalam membedah teknik penanganan awal krisis bagi konselor sebaya ketika menghadapi situasi darurat, seperti penanganan serangan panik, perilaku agresif, halusinasi, hingga kecenderungan bunuh diri. Beliau menekankan prinsip utama “Dengarkan Tanpa Menghakimi” serta mengingatkan batasan-batasan krusial yang harus dihindari oleh seorang konselor non-profesional, seperti larangan memberikan diagnosis klinis atau menjanjikan kerahasiaan mutlak jika konseli berisiko menyakiti diri sendiri. Keterampilan mikro seperti attending behaviour, paraphrasing, dan clarifying yang dipaparkannya menjadi fondasi penting agar para peer counselor dapat membangun rapport yang aman, hangat, dan efektif dalam memfasilitasi kemandirian pengambilan keputusan bagi mahasiswa yang sedang menghadapi situasi sulit.
“Kesehatan mental bukan sekadar terbebas dari penyakit, melainkan sebuah keadaan sejahtera yang membuat kita mampu mengelola stres, berpikir jernih, dan berfungsi efektif dalam kehidupan sehari-hari.” Ujar Ulifa.
Selanjutnya, materi kedua disampaikan oleh Ns. Muhammad Sunarto, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J., seorang pakar keperawatan jiwa yang aktif dalam edukasi kesehatan mental masyarakat. Ia membawakan narasi terkait pencegahan perundungan (bullying) dan kekerasan di ruang digital (internet). Dalam paparannya, ditekankan bahwa internet dan media sosial saat ini sering kali menjadi fasilitator bagi tindakan perundungan siber (cyberbullying) yang berdampak sistemik pada kesehatan jiwa korbannya. Muhammad Sunarto menggarisbawahi pentingnya literasi digital, batasan etika dalam berinteraksi di dunia maya, serta peran aktif komunitas kampus untuk tidak menjadi penonton pasif (bystander) ketika melihat kekerasan digital. Para konselor sebaya dibekali pemahaman untuk mendeteksi trauma akibat perundungan siber serta langkah taktis dalam memberikan pelindungan serta pendampingan bagi korban.

Melalui penyelenggaraan Workshop Peer Counselor “Rekan Melangkah” ini, diharapkan dapat tercipta lingkungan kampus FILKOM UB yang lebih inklusif, sehat secara mental, dan aman dari segala bentuk kekerasan maupun perundungan. Keberadaan konselor sebaya yang terlatih diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam memberikan dukungan psikologis awal yang empati, sekaligus menjadi jembatan bagi mahasiswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut ke pihak profesional.(ed)