Lewat International Guest Lecture, FILKOM UB Soroti Paradoks Konektivitas Siber dan Kerangka Pertahanan Pertahanan Digital

Lewat International Guest Lecture, FILKOM UB Soroti Paradoks Konektivitas Siber dan Kerangka Pertahanan Pertahanan Digital

dok. PSIK FILKOM UB

Di tengah derasnya arus transformasi digital, dunia kini menghadapi sebuah paradoks besar: ketika segala sesuatu saling terhubung, sejauh mana kita bisa menaruh kepercayaan? Pertanyaan kritis inilah yang mendasari gelaran FILKOM UB International Guest Lecture Series yang dilangsungkan secara daring melalui platform Google Meet pada Selasa (19 Mei 2026).

Kuliah tamu berskala internasional ini menghadirkan dua pakar global untuk membedah dilema teknologi masa kini. Dipandu oleh Mahendra Data, S.Kom., M.Kom., Ph.D. selaku moderator, sesi pertama dibuka oleh Prof. Gabriel Avelino Sampedro dari Department of Science and Technology – Metals Industry Research and Development Center, Filipina. Beliau mengangkat tema memikat, “The Industry 4.0 Dilemma: Everything Is Connected, But Can Everything Be Trusted?”.

Dalam paparannya, Prof. Gabriel menekankan bahwa konektivitas adalah motor utama pencipta nilai di era Industri 4.0. Teknologi menjanjikan efisiensi luar biasa mulai dari real-time monitoring, predictive maintenance, otomasi, AI-assisted decisions, hingga implementasi Digital Twins dan supply chain visibility. Namun, pergeseran masif ini menyisakan sebuah dilema besar terkait aspek kepercayaan.

“Kita dituntut untuk kritis. Bisakah kita mempercayai peralatan yang digunakan, validitas data, akurasi model AI, keamanan jaringan, integritas pemasok, hingga keputusan otomatis yang diambil oleh sistem?” ungkap Prof. Gabriel.

Beliau menjelaskan bahwa Industri 4.0 terdiri dari banyak lapisan (layer) yang saling memengaruhi. Integrasi antara Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan Blockchain menjadi kunci sekaligus tantangan terbesar dalam menjaga validitas sistem.

Memasuki sesi diskusi, Mahendra Data, Ph.D. melontarkan pertanyaan pemantik mengenai bagaimana mahasiswa harus mempersiapkan diri menghadapi dinamika era Industri 4.0 ini. Menanggapi hal tersebut, Prof. Gabriel menegaskan bahwa di dunia digital, teknologi akan selalu berubah dengan sangat cepat. Oleh karena itu, kunci utama bagi mahasiswa bukanlah terpaku pada satu alat saja, melainkan memiliki kesiapan dan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap setiap perubahan.

dok. PSIK FILKOM UB

Beranjak ke sesi kedua, fokus diskusi bergeser pada benteng pertahanan digital melalui tema, Cybersecurity Infrastructure & Research. Sesi ini menghadirkan narasumber Mohammad Hafiz Bin Mohd Yusof, PhD, P.Tech., dari Universiti Teknologi MARA, Malaysia.

Dr. Hafiz memperingatkan peserta mengenai ancaman siber mutakhir yang kian samar dan berbahaya, seperti Stealthy Advanced Persistent Threat (APT) dan metode serangan Living off the Land (LotL) yang kini menjadi standar tertinggi (state of the art) dalam teknik peretasan. Dalam lanskap ancaman yang begitu canggih, lengah sedikit saja bisa berdampak fatal bagi sebuah institusi.

Oleh karena itu, Dr. Hafiz menegaskan sistem pertahanan digital tidak boleh memiliki titik buta (blind spot) sekecil apa pun karena celah tersebut akan langsung dieksploitasi menjadi ancaman keamanan siber yang masif. Beliau memaparkan pentingnya penguatan batas keamanan jaringan (network security perimeter) yang dikelola secara sinergis oleh pemerintah.

Sebagai fondasi utama, Dr. Hafiz menjabarkan ekosistem keamanan siber yang bertumpu kuat pada tiga kerangka kerja sinergis, yaitu People, Process, dan Technology (PPT). Dari sisi manusia (People), fokus utamanya adalah membangun kesadaran penuh dan pemahaman mendalam pada setiap tahapan pengembangan sistem (full step of development) agar sumber daya manusia tidak menjadi mata rantai terlemah (the weakest link).

Langkah ini harus didukung oleh aspek proses (Process) melalui penyusunan regulasi, SOP, serta langkah mitigasi yang taktis dan terstandarisasi untuk merespons insiden serangan secara cepat. Akhirnya, ekosistem tersebut disempurnakan oleh aspek teknologi (Technology) dengan mengadopsi perangkat keras dan perangkat lunak mutakhir yang mampu mendeteksi, menangkal, dan mengisolasi ancaman siber secara otomatis.

Melalui kupasan tuntas mengenai dilema konektivitas global hingga strategi taktis pertahanan siber ini, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya terus berkomitmen membekali para mahasiswa dan peneliti dengan wawasan global yang komprehensif. Langkah ini merupakan manifestasi nyata dari visi Smart Digital Solution and Innovation.

Dengan penyelenggaraan kuliah tamu internasional ini, FILKOM UB tidak hanya berfokus pada keunggulan teoritis, tetapi proaktif membuka ruang diskusi visioner demi melahirkan talenta digital yang adaptif sekaligus tangguh dalam menjaga kedaulatan data bangsa serta menghadirkan solusi digital cerdas yang mampu menjawab problematika masyarakat secara tepat guna. (rr)