Raiter, Alat Pemanen Air Hujan Siap Minum Karya Mahasiswa FILKOM

Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menciptakan teknologi alat pemanen air hujan IoT yang dinamakan Raiter. Inovasi ini dibuat untuk menyelesaikan permasalahan krisis air minum bersih. Mereka adalah Muh. Fijar Sukma dan Muhammad Aditya dari Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM UB), dan Faris Febrian, Miftahul Pebrianti, dan St.Shofiah dari FMIPA UB. Mereka tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang lolos didanai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Kelima mahasiswa ini memperoleh bimbingan dari dosen FILKOM, Mochammad Hannats Hanafi Ichsan, S.ST., MT.

Ketua Tim Muh. Fijar Sukma menyampaikan, adanya perubahan iklim di Indonesia menyebabkan terjadi pergeseran musim dan menimbulkan cuaca ekstrim. Akibatnya Indonesia sering dilanda kekeringan di musim kemarau atau banjir bandang di musim penghujan.

“Untuk itu tim kami membuat teknologi pemanen air hujan untuk mengatasi krisis air minum bersih  yang biasanya terjadi saat musim kemarau,” jelas Fijar.

Teknologi yang ditawarkan berbasis Internet of Things yang terintegrasi kedalam Smartphone dan disematkan ke dalam bentuk sensor yang berfungsi untuk memonitor kualitas air minum dengan berbagai paramater yang ada didalammnya.

Pada alat ini terdapat sistem filtrasi, sterilisasi, dan dekontaminasi yang digunakan untuk menyaring kotoran serta membunuh nano partikel berbahaya didalam air hujan. Selain itu, di dalamnya juga dilengkapi dengan beberapa sensor yang berfungsi sebagai indikator air bersih siap minum yang dihasilkan.

Pengaturan waktu pemprosesan air hujan dapat dilakukan melalui smartphone dan smartphone akan memberikan notifikasi apabila terjadi gangguan pada sistem hardware atau software dan menampilkannya pada layar sehingga memudahkan pengguna dalam perbaikan alat.

Sensor yang ada di teknologi Raiter ini anatara lain sensor suhu, TDS, kekeruhan, dan pH. Kemudian tahapan filtrasi Raiter terdiri dari 3 tahapan yaitu filtrasi pertama menggunakan busa filtrasi, batu zeolit, dan arang aktif. Kemudian filtrasi kedua menggunakan membran ultrafiltrasi yang kemudian dilanjutkan ketahapan filtrasi terakhir menggunakan konsep elektrolisis untuk memisahkan kandungan logam yang ada di sampel.

Fijar menambahkan, harapan kedepannya teknologi ini dapat dikembangkan dan dikomersialkan bukan hanya untuk air minum, namun untuk keperluan yang lebih luas lagi seperti pertanian, perikanan, dan lain sebagainya serta bermanfaat untuk masyarakat luas.[drn]