Pentingnya Pengetahuan dan Kemampuan Komunikasi Bagi Sarjana IT
Pengetahuan yang luas di segala bidang dan kemampuan komunikasi yang baik ternyata merupakan modal penting yang harus mulai dipersiapkan oleh para lulusan perguruan tinggi, khususnya lulusan Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK) Universitas Brawijaya. Hal ini disampaikan sendiri oleh para praktisi dunia kerja dari beberapa perusahaan ternama di Indonesia yang beberapa waktu lalu dikunjungi oleh PTIIK. Pada 6- 7 Desember 2012 PTIIK melakukan kunjungan ke beberapa perusahaan besar di Jakarta dengan diwakili oleh Ir. Sutrisno, MT (Ketua Program), Ir. Heru Nurwarsito, M.Kom (Wakil Ketua I), Himawat Aryadita, ST., M.Sc (Wakil Ketua II), Wiwin Lukitohadi, S.H., S.Psi., CHRM. (ketua unit Bimbingan Konseling dan Penempatan Kerja) dan Pambayun Wulan Utami, Ssi. (staff bagian Kerjasama).
Pada kesempataan itu tiga perusahaan yang dikunjungi oleh PTIIK adalah PT. Global Digital Prima (GDP) Venture, BNI Jendral Sudirman dan PT Indosat Tbk. Dari hasil kunjungan tersebut diperoleh informasi penting dari setiap perusahaan bahwa staff IT yang dibutuhkan dalam perusahaan bukanlah lulusan yang hanya paham tentang teori yang berkaitan dengan IT saja, melainkan orang yang memiliki pengetahuan luas di segala bidang dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Hendra Boor, Assistant Vice President mengatakan bahwa saat ini seorang staff IT perlu memiliki kemampuan komunikasi yang baik, karena dalam membuat sebuah program, staff IT perlu untuk berkoordinasi dengan berbagai unit terkait dalam perusahaan. Jika staff IT tidak bisa berkomunikasi dengan baik maka dikhawatirkan berbagai program yang dibuatnya tidak akan bisa sesuai dengan kebutuhan unit terkait yang akan menggunakannya.
“Selama ini kesulitannya untuk di BNI itu menganalisa data untuk bisa diterjemahkan dalam bahasa pemrograman. Jadi staff IT hanya mengerti bahasa IT saja, sedangkan unit yang lain mengertinya bahasa perbankan. Akhirnya gak bisa ketemu-ketemu,” ujar Hendra.
Hal senada juga sempat disampaikan oleh Mr On Lee, selaku Chief Technology Officer PT Global Digital Prima yang menyatakan bahwa kelemahan dari lulusan perguruan tinggi di Indonesia adalah kurangnya insiatif dalam melakukan pekerjaan jika tidak diperintahkan dan kurangnya keberanian dalam menyampaikan pendapat. Untuk bisa memiliki keberanian dalam menyampaikan pendapat dan berinisiatif dalam dunia kerja tentunya diperlukan pengetahuan yang luas, agar pendapat yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kalau di Indonesia kebanyakan lulusannya tidak berani berdebat atau menyampaikan pendapat. Biasanya malah mengeluh di belakang lalu kerjanya tidak maksimal. Saya selalu sarankan tim saya untuk rajin membaca dan terus belajar. Jangan mentang-mentang sudah lulus lalu tidak mau belajar. Misalkan anak IT, jangan cuma belajar tentang IT saja tapi juga bidang yang lain misalnya marketing atau apa saja. Nantinya itu akan sangat berguna untuk menjembatani kita dalam menterjemahkan kemauan klien dalam bentuk program,” jelasnya.
Selain sharing mengenai kriteria lulusan IT yang dibutuhkan oleh setiap perusahaan, dalam kesempatan itu dibicarakan juga kemungkinan kerjasama yang bisa dijalin. Hendra Boor Perwakilan dari BNI mengatakan untuk beberapa tahun ini pihak BNI telah menjalankan kerjasama perekrutan Earlier Recruitment Program (ERP) dengan beberapa universitas di Indonesia. Dengan adanya program ini maka universitas yang ditunjuk oleh BNI dapat merekomendasikan lulusan terbaiknya untuk kemudian bisa berkarir di BNI. Diharapkan untuk masa mendatang dapat menjalin jenis kerjasama ERP dengan PTIIK.
Untuk GDP, dalam jangka waktu dekat ini bersedia untuk melakukan kerjasama dalam bentuk pemberian materi untuk kuliah tamu tentang pembentukan diri bagi para lulusan PTIIK UB, agar lebih dalam menghadapi dunia kerja. Sementara itu, kerjasama dengan PT Indosat Tbk masih akan dibicarakan lagi lebih lanjut untuk kedepannya. (dna)