Dua Inovasi Robotika FILKOM UB Siap Uji Coba di Kompetisi Internasional ERIC 2026

Dua Inovasi Robotika FILKOM UB Siap Uji Coba di Kompetisi Internasional ERIC 2026

Dok. PSIK FILKOM UB
Team Baby Atyabrama FILKOM UB
Dari kiri ke kanan: Fristian Boas Nathaniel (25-Teknik Komputer) – Programming, Weaver Simon (25-Sistem Informasi) – Ketua Tim & Elektrikal, dan Damar Dydan Aryapandya Suprapto (25-Teknik Komputer) Mekanik

Tim Atyabrama Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) akan menampilkan dua inovasi robotika di Electronics and Robotics Innovation Competition (ERIC) 2026, yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta pada 22–24 September 2026. Di bawah organisasi mahasiswa ROBOTIIK, kedua tim membawa solusi teknologi yang berbeda namun sama-sama bersemangat membuktikan bahwa inovasi mahasiswa FILKOM UB mampu bersaing di tingkat internasional.

Pada kategori Drone Innovation, Tim Baby Atyabrama menghadirkan inovasi bernama VARIO (Variable-Rate Precision Spray Drone)—sebuah drone semprot yang menyesuaikan dosis cairan secara otomatis berdasarkan kondisi tanaman di bawahnya. Berbeda dari drone semprot konvensional yang menyemprotkan cairan dengan dosis seragam di seluruh lahan, VARIO membaca ketinggian tanaman menggunakan sensor jarak saat terbang, kemudian menyesuaikan dosis secara real-time: tanaman lebat mendapat dosis penuh, tanaman kecil mendapat dosis lebih sedikit, area tanpa tanaman tidak disemprot sama sekali—semuanya berjalan otomatis tanpa intervensi operator.

Keunggulan lain VARIO terletak pada kemampuannya melakukan pemetaan dan penyemprotan dalam satu penerbangan sekaligus. Data sensor yang terkumpul diolah menjadi peta distribusi kerapatan tanaman dua dimensi, memberikan referensi berharga bagi petani untuk pengelolaan lahan yang lebih efisien. Semua logika sistem ini berjalan pada mikrokontroler ESP32 tanpa memerlukan kamera, kecerdasan buatan, maupun koneksi cloud—membuktikan bahwa solusi pertanian yang canggih tidak harus mahal atau rumit.

Tim Baby Atyabrama terdiri dari Weaver Simon (Sistem Informasi, angkatan 25) sebagai ketua tim, didampingi Damar Dydan Aryapandya Suprapto dan Fristian Boas Nathaniel (keduanya Teknik Komputer, angkatan 25). Weaver mengungkapkan bahwa inovasi ini lahir dari keresahan atas pemborosan dalam penyemprotan pertanian konvensional.

“VARIO lahir dari keresahan kami terhadap pemborosan yang terjadi dalam proses penyemprotan pertanian konvensional. Dengan teknologi yang sederhana namun tepat sasaran, kami ingin membuktikan bahwa inovasi pertanian yang efisien tidak harus mahal,” ujar Weaver.

Dok. PSIK FILKOM UB
Team Atya Balap FILKOM UB
Dari kiri ke kanan: Igor Mecca Mohammed (25-Teknik Informatika), Farhan Khairullah (25-Teknik Komputer) Ketua tim, dan Muhammad Minanur Rohman (24-Teknik Komputer)

Di kategori Line Follower, Tim Atya Balap menghadirkan robot berukuran mikro yang dirancang untuk mengikuti lintasan sambil melewati berbagai rintangan secara otonom. Robot ini didesain dengan mempertimbangkan tiga faktor penentu kesuksesan: kecepatan, stabilitas, dan kemampuan pemulihan ketika kehilangan garis. Strategi tersebut membedakan Atya Balap dari kompetitor yang hanya fokus pada satu aspek.

Tim ini dipimpin oleh Farhan Khairullah (Teknik Komputer, angkatan 25), bersama Igor Mecca Mohammed (Teknik Informatika, angkatan 25) dan Muhammad Minanur Rohman (Teknik Komputer, angkatan 24). Menurut Farhan, tantangan terbesar dalam line follower bukan sekadar membuat robot yang bisa bergerak, melainkan robot yang dapat menyelesaikan lintasan dengan cepat tanpa berhenti di tengah jalan.

“Kami mempersiapkan robot ini dengan fokus pada konsistensi dan kecepatan. Tantangan terbesar bukan hanya membuat robot yang bisa jalan, tetapi robot yang bisa finish dengan cepat dan tidak berhenti di tengah lintasan,” tegas Farhan.

Kedua tim telah berlatih secara intensif di bawah bimbingan Rakhmadhany Primananda, S.T., M.Kom. Dengan membawa semangat yang sama seperti saat menghadapi KRTI 2026, Atyabrama menargetkan performa terbaik di ERIC 2026. Rakhmadhany melihat perkembangan signifikan pada kedua tim—tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi pengembangan soft skill seperti kolaborasi dan problem-solving.

“Selama proses persiapan lomba, saya melihat kedua tim selalu berkembang di setiap latihannya baik dari kemampuan secara teknis maupun non-teknis. Semoga dengan persiapan yang matang ini, baik tim Baby Atyabrama dan tim Atya Balap dapat memberikan hasil terbaik untuk FILKOM UB,” ungkap Rakhmadhany.

Dari perspektif organisasional, Dos Hansel Sihombing, Koordinator Divisi Atyabrama, juga memberikan apresiasi atas dedikasi kedua tim. Menurutnya, intensitas persiapan dan perkembangan yang ditunjukkan adalah bukti komitmen Atyabrama dalam merepresentasikan FILKOM UB di kancah kompetisi internasional.

“Selama persiapan ERIC 2026, kedua tim telah melakukan persiapan secara intensif dan menunjukkan perkembangan yang baik. Semoga seluruh proses dan persiapan yang telah dilakukan dapat memberikan hasil yang baik dan membawa nama Atyabrama serta FILKOM UB di kompetisi ERIC 2026,” tuturnya.

Partisipasi Tim Atyabrama dalam ERIC 2026 mencerminkan komitmen FILKOM UB terhadap SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure). Melalui dua solusi berbeda—dari drone untuk efisiensi pertanian hingga robot autonomous untuk optimalisasi sistem—mahasiswa FILKOM UB mendemonstrasikan bahwa inovasi teknologi bukan hanya tentang kecanggihan, tetapi tentang problem-solving yang relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat. Perjalanan Atyabrama di ERIC 2026 adalah bukti bahwa mahasiswa muda Indonesia siap berkontribusi pada solusi teknologi global. (rr/dso)

#Universitas Brawijaya_SDG9