Dosen FILKOM UB Jadi Pembicara Utama Seminar Inovasi Pembelajaran Digital di UBHI PGRI

Dosen FILKOM UB Jadi Pembicara Utama Seminar Inovasi Pembelajaran Digital di UBHI PGRI

dok. Pribadi

Dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB), Dr. Okta Purnawirawan, S.Pd., M.Pd. Gr., menjadi narasumber utama dalam Seminar Digital Teaching Innovation yang diselenggarakan oleh Fakultas Sosial dan Humaniora Universitas Bhinneka PGRI (UBHI) Tulungagung pada Rabu, 3 Juni 2026. Seminar terbagi menjadi 2 Sesi, yaitu Sesi 1 diikuti oleh Mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA, Pendidikan Guru SD, dan Pendidikan Matematika. Sedangkan sesi 2 diikuti oleh Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Ekonomi, dan Pendidikan PKN.

Agenda akademis bertajuk “Mempersiapkan Calon Guru Adaptif di Era Teknologi” ini diinisiasi oleh Fakultas Sosial dan Humaniora Universitas Bhinneka PGRI (UBHI), berlangsung secara luring di Auditorium Universitas Bhinneka PGRI, acara ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa Semester VI yang bersiap menjadi calon pendidik masa depan. Kehadiran Okta tersebut bertujuan untuk mengupas tuntas strategi pembelajaran digital sekaligus menginspirasi para peserta seminar.

Dalam sesi pemaparan materi, Okta membedah peta demografi pendidikan terkini. Saat ini, para calon guru yang berada di bangku kuliah didominasi oleh Generasi Z (kelahiran 1997-2012) yang dikenal sebagai digital native. Karakteristik utama guru Gen Z meliputi kecakapan tingkat tinggi terhadap teknologi digital, fleksibel, kreatif, inovatif, cepat mengelola informasi, serta berorientasi kuat pada kolaborasi dan pengembangan diri. Namun, tantangan sesungguhnya muncul ketika guru Gen Z ini harus mengajar Generasi Alpha (kelahiran 2013-2024).

Generasi Alpha tumbuh di era di mana kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), gawai (gadget), dan platform digital sudah menjadi konsumsi sehari-hari. Karakteristik belajar mereka sangat visual (visual oriented), multimedia, komunikatif, menyukai pembelajaran personal (personalized learning), namun memiliki rentang fokus yang relatif pendek (short attention span) sehingga mudah merasa bosan.

“Teknologi memang berkembang setiap hari untuk membantu mempermudah penyampaian materi, tetapi kasih sayang, empati, dan keteladanan seorang guru sejati tidak akan pernah bisa tergantikan oleh mesin apa pun,” tegas. Okta hadapan para peserta seminar.

Guna menjembatani kebutuhan Generasi Alpha, Okta memaparkan bahwa esensi dari pembelajaran teknologi digital masa kini adalah pemanfaatan teknologi sebagai media, sarana, dan lingkungan belajar yang interaktif. Inovasi ini sangat efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa serta mendukung sistem pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning).

Meskipun demikian, guru harus jeli menghadapi tantangan seperti keterbatasan sarana prasarana dan akses internet yang belum merata di lapangan. Sebagai solusi konkret, Okta mengenalkan berbagai komponen media digital interaktif yang siap diadopsi oleh calon guru.

“Mulai dari pemanfaatan video tutorial dan podcast melalui YouTube, TikTok, atau Instagram, hingga penerapan Learning Management System (LMS) berbasis Moodle, Google Classroom, dan Schoology. Guru juga dapat menghidupkan suasana kelas dengan kuis online seperti Quizizz, Kahoot!, Socrative, dan Mentimeter, serta memanfaatkan platform acak seperti Wheel of Names untuk meningkatkan partisipasi aktif siswa,” tambahnya.

Untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih imersif, penggunaan media berbasis permainan (game-based learning) seperti Minecraft Education dan Classcraft, hingga teknologi tingkat lanjut berupa Augmented Reality (AR) via Assemblr EDU kini menjadi opsi terbaik yang sangat disukai anak-anak zaman sekarang.

Melalui pelaksanaan agenda ini, harapannya para calon pendidik masa depan memiliki kesiapan mental dan penguasaan teknologi yang matang untuk mencetak generasi penerus bangsa yang unggul. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi strategis ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang saling menguntungkan (mutual benefit), baik bagi peningkatan kapasitas akademik mahasiswa UBhi Tulungagung maupun dalam memperluas jangkauan kontribusi keilmuan FILKOM UB di tingkat regional. (rr)