Sinergi FILKOM UB dan KOMDIGI: Akselerasi Talenta AI Nasional Melalui Workshop 2 AITF 2026

Sinergi FILKOM UB dan KOMDIGI: Akselerasi Talenta AI Nasional Melalui Workshop 2 AITF 2026

Workshop 2 Artificial Intelligence Talent Factory (AITF), program kolaborasi antara Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) dengan Universitas Brawijaya dilaksanakan pada 16-17 April 2026 di Auditorium Algoritma Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB). Tahun ini merupakan batch kedua dari program yang pertama kali digelar pada Maret lalu, dengan cakupan yang diperluas hingga melibatkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai mitra perguruan tinggi.

Program AITF dipandang sebagai inisiatif krusial dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten di bidang kecerdasan artifisial. Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Imam Santoso, M.P., dalam sambutannya menekankan bahwa keterlibatan UB adalah bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap agenda digital nasional.

“Bagi Universitas Brawijaya, program ini merupakan bagian dari kontribusi nyata dalam mendukung agenda nasional, khususnya dalam menyiapkan talenta digital Indonesia yang mampu memberi solusi bagi kebutuhan masyarakat,” ujar Prof. Dr. Imam Santoso saat membuka acara secara resmi.

Beliau juga menegaskan dukungan penuh UB melalui penyediaan infrastruktur mutakhir, termasuk pemanfaatan AI Center dan layanan komputasi tingkat tinggi seperti Google Colab untuk optimalisasi eksperimen model AI.

Workshop kedua ini menjadi momentum bagi 38 mahasiswa terpilih dari Universitas Brawijaya untuk memaparkan progres pengembangan teknologi mereka. Fokus pengerjaan dibagi menjadi dua use case utama yang berdampak langsung pada masyarakat Jawa Timur:

  • Pemetaan Kemiskinan dan Bantuan (MKN): Pengembangan sistem AI untuk akurasi pendistribusian bantuan sosial, bekerja sama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika serta Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur.
  • Sekolah Rakyat (SR): Digitalisasi pendidikan yang menyasar kebutuhan spesifik, seperti pada Sekolah Rakyat Menengah Atas 22 Malang, dengan pendampingan langsung dari tim Pusdatin Kementerian Sosial.

“Tantangannya lebih besar karena melibatkan pihak ketiga, tidak hanya Komdigi dan UB saja, tapi juga dengan Kemensos,” ujar Dekan FILKOM UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan, ST, MT, PhD, IPM, saat membuka workshop, Kamis (16/4/2026).

Dua use case strategis menjadi fokus utama garapan para mahasiswa: sistem personalized learning berbasis AI untuk Sekolah Rakyat, dan sistem pemetaan serta prediksi data kemiskinan untuk mendukung penyaluran bantuan sosial yang lebih tepat sasaran.

AI untuk Data Kemiskinan: Mengakhiri Bantuan Sosial yang Salah Sasaran

Use case kedua menyentuh persoalan klasik yang sudah lama menghantui program kesejahteraan sosial di Indonesia: data kemiskinan yang tidak akurat menyebabkan bantuan sosial meleset dari target yang seharusnya.

Mahasiswa ditantang membangun sistem AI yang mampu memetakan kondisi masyarakat miskin secara lebih presisi sekaligus memprediksi arah kebijakan yang paling relevan. Salah satu aplikasi yang dikembangkan secara spesifik adalah alat bantu bagi Dinas Sosial dalam melakukan penyortiran data desil masyarakat secara otomatis dan akurat.

Use case dari Kementerian Sosial ini berkaitan dengan data kemiskinan. Nantinya untuk membantu pemetaan masyarakat miskin dan prediksi kebijakan, sehingga program pengentasan kemiskinan bisa lebih tepat sasaran,” kata Tri Astoto.

Ia menegaskan bahwa peran AI di sini adalah sebagai alat bantu analisis, bukan pengganti pengambil keputusan manusia. “Dengan bantuan teknologi ini, pemerintah bisa mengagendakan kebijakan yang lebih optimal. Ujungnya efisiensi anggaran. Tapi tetap, yang memutuskan adalah manusia, AI hanya memberikan rekomendasi berbasis data.”

Workshop berlangsung dua hari dimulai dengan pembukaan resmi di Auditorium Algoritma FILKOM UB, Kamis (16/4), dilanjutkan sesi diskusi intensif yang dilakukan secara hibrid. Para peserta dan mentor berdialog langsung dengan penyelenggara dari berbagai institusi, termasuk ITS, UGM, perwakilan Dinas Sosial, dan Komdigi.

Hari kedua, Jumat (17/4), berfokus pada sesi presentasi progres proyek dari seluruh tim yang terbagi dalam dua kategori: MKN (Mesin Kecerdasan Nasional) sebanyak 4 tim, dan SR (Sekolah Rakyat) sebanyak 6 tim dengan total sekitar 10 tim aktif.

Salah satu peserta, Jeremy, mahasiswa Teknik Komputer yang tergabung dalam kelompok SR, menggambarkan suasana presentasi hari kedua. “Tadi presentasi sekitar progres selama pekerjaan sampai tahap sekarang ini. Terus sama kendala dan solusi, rencana pengerjaan seterusnya di kemudian hari. Lalu dikomentari oleh kakak pembimbing dan Pak Mirza,” tuturnya.

Presentasi tidak hanya dievaluasi dari sisi teknis, tetapi juga dari kesesuaian output dengan kebutuhan data yang diminta instansi terkait seperti Dinsos dan Komdigi. Para mentor memberikan arahan teknis mengenai pengolahan data, pemodelan AI, validasi hasil, pentingnya kualitas data dalam pelatihan model, termasuk proses data cleaning, labeling, dan penanganan imbalanced data.

Triple Helix Bergerak: Pemerintah, Kampus, dan Mahasiswa Bersatu

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP, menyebut AITF sebagai wujud nyata dari pola kolaborasi triple helix maupun penta helix yang selama ini digemakan dalam diskursus inovasi nasional.

“Ini adalah tahun kedua UB menyelenggarakan AITF dan diharapkan akan terus memperkuat ekonomi digital di Indonesia yang akan berkontribusi secara signifikan terhadap kebijakan-kebijakan berbasis digital. Ini merupakan bentuk nyata realisasi triple helix maupun penta helix,” kata Prof. Imam Santoso.

Ia menekankan bahwa kebutuhan talenta AI di Indonesia tidak hanya terbatas pada sektor teknologi, tetapi telah merambah hampir semua lini. “Semua sektor membutuhkan, semua kementerian membutuhkan, semua aspek dari desa hingga pusat membutuhkan,” tegasnya.

Universitas Brawijaya saat ini telah mengoperasikan dua unit superkomputer untuk mendukung riset berbasis AI, namun kapasitas keduanya sudah mulai mencapai batas.

“Bahkan superkomputer kita yang dua juga sudah mulai jenuh. Kita sudah butuh lagi karena saking banyaknya riset-riset berbasis AI yang membutuhkan dukungan superkomputer,” ungkap Prof. Imam Santoso. Tren penggunaan AI di lingkungan kampus, menurutnya, meningkat sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir dimana kondisi ini sekaligus menjadi cermin betapa besarnya kebutuhan ekosistem riset AI di perguruan tinggi Indonesia. (ed)