FILKOM UB Kenalkan GenBatik, Manfaatkan AI Generatif untuk Motif Batik Digital di Banyuwangi

FILKOM UB Kenalkan GenBatik, Manfaatkan AI Generatif untuk Motif Batik Digital di Banyuwangi

Dr. Eng. Novanto Yudistira, S.Kom., M.Sc., menyampaikan materi dalam kegiatan GenBatik: Pengenalan Teknologi AI Generatif untuk Penciptaan Motif Batik Digital bagi Pengrajin Batik, di Banyuwangi Creative Hub, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (8/8/2026).

Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) memperkenalkan pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) generatif kepada pengrajin batik lewat program “GenBatik: Pengenalan Teknologi AI Generatif untuk Penciptaan Motif Batik Digital bagi Pengrajin Batik”, di Banyuwangi Creative Hub, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan ini merupakan satu dari tiga rangkaian Pengabdian kepada Masyarakat FILKOM UB yang digelar pada 7–9 Agustus 2026, didanai oleh skema Dana Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2026.

Pelatihan diikuti oleh 35 peserta dari berbagai sektor usaha dan komunitas kreatif Banyuwangi, dengan sejumlah peserta yang merupakan perwakilan Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Banyuwangi “Sekarjagad Blambangan”.

GenBatik diketuai oleh Dr. Eng. Novanto Yudistira, S.Kom., M.Sc., didukung oleh Dr. Eng. Irawati Nurmala Sari, S.Kom., M.Sc. dan Tirana Noor Fatyanosa, S.Kom., M.Kom., Ph.D. Dua mahasiswa FILKOM UB turut dilibatkan, yaitu Nafis Naufal Rahman dan Aditya Akbar, berasal dari Program Studi Teknik Informatika, angkatan 2024

Yudis, sapaan akarab Novanto, mengatakan GenBatik Adalah AI generatif dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan gagasan visual motif batik secara lebih cepat dan beragam. Teknologi ini ditempatkan sebagai alat bantu kreativitas yang tetap memerlukan pengetahuan, pengalaman, dan sentuhan artistik dari para perajin — bukan sebagai pengganti proses kreatif manual yang menjadi ciri khas batik.

“Kami berharap, dengan pendekatan ini, pemanfaatan AI generatif dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas serta kekayaan budaya batik Banyuwangi, alih-alih menggantikannya,” tegasnya.

GenBatik bukan aplikasi baru. Sejak dikembangkan bersama tim lintas fakultas pada 2023, aplikasi ini telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum RI pada Januari 2025, dan hasil risetnya dipublikasikan di jurnal internasional Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) pada akhir 2024. Tak lama setelah itu, GenBatik juga dinobatkan sebagai nominator terbaik pada Dekranasda Award 2025 yang digelar Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kota Malang.

Secara teknis, GenBatik memanfaatkan model Latent Diffusion, teknik Chain of Thought (CoT), serta adaptasi Low-Rank Adaptation (LoRA), dengan antarmuka berbasis Nuxt dan Vue.js untuk menghadirkan pengalaman mendesain motif batik yang cepat dan intuitif hanya lewat perintah teks. Rekam jejak dan validasi inilah yang kemudian dibawa Yudis dan tim ke Banyuwangi, memperluas manfaat GenBatik dari sekadar riset dan penghargaan menjadi alat bantu nyata bagi pengrajin batik di daerah.

Program GenBatik ini selaras dengan SDG 9 – Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, lewat pengenalan teknologi AI generatif sebagai alat produksi kreatif baru bagi pengrajin batik, sekaligus SDG 11 – Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, mengingat pendekatan ini secara eksplisit dirancang untuk menjaga pelestarian identitas dan kekayaan budaya batik Banyuwangi di tengah adopsi teknologi baru. (rr)