Tingkatkan Kesiapsiagaan First Aid, K3L FILKOM UB Gandeng PMI Kota Malang Gelar Pelatihan P3K Tahun 2026

Tingkatkan Kesiapsiagaan First Aid, K3L FILKOM UB Gandeng PMI Kota Malang Gelar Pelatihan P3K Tahun 2026

dok. PSIK FILKOM UB

Dalam upaya membangun lingkungan kampus yang aman dan responsif terhadap situasi darurat, Tim Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) Fakultas Ilmu KomputerUniversitas Brawijaya (FILKOM UB) menggelar Pelatihan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K). Kegiatan yang berlangsung intensif selama dua hari ini diselenggarakan pada Senin, 29 Juni 2026 hingga Selasa, 30 Juni 2026, bertempat di Teater Heuristik FILKOM UB.

Ketua K3L FILKOM UB, Rakhmadhany Primananda, S.T., M.Kom., pada sambutan pembukaan menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai langkah konkret untuk membangun kesiapsiagaan kolektif di lingkungan kampus.

“Urgensi dari pelatihan ini adalah untuk meminimalisasi risiko fatalitas saat terjadi insiden darurat sebelum tim medis profesional tiba di lokasi. Dengan pembekalan yang matang, setiap individu yang kebetulan berada di lokasi kecelakaan tidak lagi menjadi penonton yang panik, melainkan mampu bertindak sebagai penolong pertama (first responder) yang kompeten. Kehadiran saksi mata yang dibekali ilmu first aid yang benar akan menjadi mata rantai penyelamatan yang krusial, memastikan tindakan awal yang diberikan bersifat menyelamatkan nyawa, bukan justru memperparah cedera korban,” tegas Dhany.

Guna menyajikan materi yang aplikatif dan kompeten, FILKOM UB menggandeng secara khusus tim ahli dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Malang. Pada kesempatan ini, hadir mendampingi peserta yaitu perwakilan dari PMI Kota Malang, M. Zamroni Erwan, Lailatun Fauziyah, dan M. Sururi Al Faruq.

dok. PSIK FILKOM UB

Pada sesi materi, Zamroni memaparkan bahwa urgensi memiliki kecakapan pertolongan pertama didasari oleh berbagai faktor integratif. Urgensi pelaksanaan pelatihan first aid ini setidaknya didasari oleh enam faktor pendorong utama yang saling berkaitan di lingkungan kerja maupun publik, yaitu tuntutan publik, tuntutan peraturan, tuntutan K3, tuntutan pihak ketiga, tuntutan asuransi, dan tuntutan sertifikat. Faktor pertama adalah tuntutan publik yang kian kritis terhadap kecepatan dan ketepatan penanganan korban kecelakaan di lapangan. Selanjutnya, terdapat tuntutan peraturan resmi dari pemerintah serta regulasi K3 yang mewajibkan instansi memiliki tim tanggap darurat yang tersertifikasi.

Faktor legalitas hukum tersebut juga diperkuat oleh tuntutan sertifikat kompetensi bagi para petugas serta tuntutan dari pihak ketiga selaku mitra kerja. Tidak kalah penting, aspek finansial seperti tuntutan pemenuhan klaim asuransi kesehatan juga menjadi salah satu alasan mendasar di balik pentingnya pelatihan ini. Namun, di atas semua regulasi formal tersebut, Zamroni menekankan bahwa kepatuhan terhadap sistem K3L pada akhirnya merefleksikan kualitas pribadi masing-masing individu. Memiliki kesadaran untuk menolong sesama dengan metode sains yang benar menunjukkan tingkat empati dan kematangan emosional yang tinggi.

Pelatihan yang mengombinasikan teori dan praktik ini diikuti dengan antusias oleh seluruh peserta. Dalam simulasinya, Zamroni menekankan pentingnya mengubah kesalahan paradigma publik yang sering kali melakukan tindakan evakuasi terburu-buru tanpa perhitungan medis yang tepat.

“Kasus fatalitas atau cedera permanen pasca-kecelakaan banyak dipicu oleh kesalahan prosedur angkat dan angkut yang dilakukan oleh penolong tanpa bekal sains first aid yang benar,” ujar Zamroni.

dok. PSIK FILKOM UB

Pelatihan ini diberikan melalui kombinasi pemaparan teori dan sesi simulasi praktis agar para peserta dapat menguasai berbagai kompetensi dasar penyelamatan nyawa secara presisi. Beberapa materi inti yang diajarkan meliputi teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR), yang melatih peserta melakukan pijat jantung dan bantuan napas bagi korban henti jantung. Selain itu, para staf juga dibekali keahlian dalam mengoperasikan Automated External Defibrillator (AED), sebuah alat kejut jantung otomatis yang kini mulai ditempatkan di berbagai area publik kampus.

Peserta juga dilatih melakukan Heimlich maneuver untuk penanganan tersedak (choking) guna membebaskan jalur napas yang tersumbat pada korban dewasa, anak-anak, maupun bayi. Sesi ini ditutup dengan simulasi teknik pemindahan korban yang aman, baik secara mandiri menggunakan metode firefighter lift maupun berkelompok dengan tandu darurat, untuk menghindari resiko cedera sekunder saat proses evakuasi.

Pembekalan praktis yang difasiltasi oleh K3L FILKOM UB ini, diharapkan dapat memberikan modal krusial berupa ketenangan, kestabilan emosional, dan akurasi tindakan di detik-detik pertama terjadinya krisis. Melalui penguasaan kompetensi dasar penanganan tanda vital, resusitasi jantung paru, hingga teknik pemindahan korban yang aman, sivitas akademika FILKOM UB, memiliki kapasitas untuk memotong rantai kepanikan massal dan mencegah tingkat cedera yang lebih fatal. Kontribusi kecil namun cepat dari seorang first responder di area kampus akan menjadi penentu penting dalam mempertahankan peluang hidup korban sebelum ambulans darurat tiba di lokasi kejadian. (rr)

Nomor Telepon Penting:

  1. EMERGENCY CALL K3L FILKOM : 081137901111
  2. DAMKAR KOTA MALANG : 112
  3. KLINIK UB VETERAN : 08113301603
  4. EMERGENCY CALL RSUB : 08113699962
  5. or CALL : 119