Pembekalan Tahap IV MMD FILKOM UB: Wujudkan IT For Better Life Melalui Aksi Nyata di Masyarakat

Pembekalan Tahap IV MMD FILKOM UB: Wujudkan IT For Better Life Melalui Aksi Nyata di Masyarakat

dok. PSIK FILKOM UB

Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (FILKOM UB) memantapkan persiapan mahasiswa dalam rangkaian agenda Pembekalan Mahasiswa Membangun Desa (MMD) pada Jumat, 26 Juni 2026. Bertempat di Auditorium Algoritma, sesi pembekalan tahap IV ini menjadi titik krusial bagi 793 peserta mahasiswa aktif yang dikelompokkan ke dalam 57 kelompok terpisah. Setiap kelompok nantinya akan diisi oleh 13 hingga 15 orang mahasiswa

Sesi pembekalan dibuka dengan pemaparan dari Edriana Pangestuti, S.E., M.Si., DBA, selaku Ketua Pusat Kajian Pariwisata UB. Dalam paparannya, Edriana menekankan bahwa transformasi desa tidak sekadar bicara tentang infrastruktur, melainkan tentang membangun ekosistem smart village yang berfokus pada kualitas manusia. 

Mahasiswa dibekali wawasan untuk memetakan potensi lokal, mulai dari pengembangan pariwisata berbasis digital mapping menggunakan Geographic Information System (GIS) hingga pembuatan konten promosi kreatif bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) desa. Materi bertajuk “Desa Cerdas, Masyarakat Berkualitas” yang menekankan pentingnya peran masyarakat sebagai inovator aktif, bukan sekadar pengguna pasif teknologi. 

Guna mewujudkan visi besar tersebut, Edriana membedah secara runtut enam pilar utama smart village yang wajib diakomodasi oleh mahasiswa ke dalam rancangan program kerja mereka di lapangan. Langkah ini diawali dengan pilar Warga Cerdas (Smart People) untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia melalui literasi digital dan keterampilan praktis. Selanjutnya, Tata Kelola Cerdas (Smart Governance) hadir untuk mengoptimalkan pelayanan publik desa agar lebih transparan dan akurat berbasis digitalisasi sistem.

Sektor finansial diakomodasi melalui Ekonomi Cerdas (Smart Economy) yang memanfaatkan ekosistem digital demi memicu inovasi UMKM serta memperluas pasar ekonomi kreatif. Lini pendukungnya, Mobilitas Cerdas (Smart Mobility), berfokus pada efisiensi sistem transportasi dan perluasan aksesibilitas konektivitas desa.

Terakhir, aspek keberlanjutan diwujudkan lewat Lingkungan Cerdas (Smart Environment) melalui pengelolaan sampah (waste management) serta mitigasi bencana, yang ditutup secara harmonis oleh pilar Kehidupan Cerdas (Smart Living) demi menjamin ruang hidup yang sehat, aman, dan tersedianya fasilitas publik yang layak bagi warga.

dok. PSIK FILKOM UB

Memasuki sesi kedua, Ahmad Nasichudin, S.E., selaku staf Keuangan FILKOM UB, membedah regulasi krusial terkait mekanisme “Pendanaan dan Pelaporan Kegiatan MMD 2026”. Berbeda dengan kebijakan tahun sebelumnya di mana dana stimulan diserahkan langsung kepada ketua kelompok melalui mekanisme bantuan kegiatan akademik mahasiswa, pada periode ini sistem pencairan mengalami transformasi tata kelola, berubah menjadi mekanisme Pengabdian kepada Masyarakat. Guna meningkatkan akuntabilitas dan pengawasan administratif, seluruh dana operasional kini akan disalurkan langsung melalui Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) di masing-masing desa penempatan.

Terkait alokasi anggaran kegiatan harian, Ahmad menjelaskan bahwa komposisi penggunaan dana didesain secara proporsional. Mahasiswa dibatasi untuk membelanjakan maksimal 60% dari total anggaran untuk pos Bahan Habis Pakai (BHP), dan batasan maksimal 60% yang sama juga berlaku untuk pos pembiayaan operasional lainnya. Meskipun persentase pembagian ini bersifat fleksibel di lapangan guna menyesuaikan dinamika kebutuhan program kerja kelompok, seluruh komponen belanja tersebut wajib hukumnya mematuhi batas atas atau pagu anggaran total yang telah ditetapkan per kelompok.

Pada sesi ketiga dan terakhir, Dr. Okta Purnawirawan, S.Pd., M.Pd., Gr., membedah secara taktis standarisasi penyusunan proposal, laporan akhir MMD, hingga teknik penulisan artikel ilmiah pengabdian masyarakat. Okta mengingatkan kembali bahwa seluruh materi yang telah diberikan oleh FILKOM UB selama empat pertemuan pembekalan sejatinya telah mencakup empat pilar utama kegiatan MMD.

dok. PSIK FILKOM UB

Empat pilar strategis tersebut meliputi pemanfaatan IT untuk memberdayakan ekonomi melalui pemasaran produk lokal, IT untuk mendukung kebutuhan instansi pemerintahan desa atau kecamatan, IT untuk akselerasi pendidikan di wilayah pedesaan, serta IT untuk mendorong potensi pariwisata dan kelestarian lingkungan. Berbekal peta panduan yang komprehensif ini, mahasiswa dalam pelaksanaan MMD di lapangan diharapkan mampu mengeksekusi program kerja secara selaras, terukur, dan terarah.

Lebih lanjut, Okta menekankan bahwa dokumentasi ilmiah yang disusun pasca-kegiatan bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif birokrasi semata. Sebaliknya, draf akademis tersebut merupakan instrumen krusial untuk merekam jejak digital (digital footprint) serta mengukur kebermanfaatan nyata dari inovasi teknologi yang telah diimplementasikan di lapangan.

“Kualitas sebuah artikel pengabdian tidak diukur dari seberapa rumit bahasanya, melainkan dari seberapa jernih kita mampu mengkomunikasikan solusi teknologi yang membawa dampak nyata bagi perubahan hidup masyarakat,” jelas Okta.

Dengan tuntasnya seluruh rangkaian materi pembekalan MMD FILKOM UB 2026, maka 793 mahasiswa seyogianya telah memiliki kesiapan mental yang matang, tata krama, peta ekosistem, tata kelola smart village yang terarah, akuntabilitas finansial yang disiplin, hingga pemahaman Zona Integritas.

Langkah pengabdian ini bukan sekadar tugas kuliah biasa, melainkan bukti nyata kontribusi mahasiswa dalam mempercepat pemerataan literasi digital dari tingkat desa. (rr)

MMD FILKOM UB, IT FOR BETTER LIFE!