Hadirkan Kepemimpinan Empatik, FILKOM UB Gelar Pelatihan Leader as Counselor bagi Jajaran Pimpinan

Perguruan tinggi merupakan lingkungan yang sarat dengan tekanan akademik, administratif, hingga interpersonal. Di tengah dinamika tersebut, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (FILKOM UB) menyadari bahwa kondisi psikologis yang sehat adalah fondasi utama bagi produktivitas, kreativitas, dan kualitas relasi di dalam institusi. Sebagai wujud komitmen nyata, FILKOM UB bekerja sama dengan Akademi Trainer menyelenggarakan program pengembangan kepemimpinan bertajuk Leader as Counselor.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer, Dr. Eng. Budi Darma Setiawan, S.Kom., M.Cs. Hal ini dikarenakan Dekan FILKOM UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., harus menghadiri prosesi wisuda mahasiswa di saat yang bersamaan sebelum kemudian bergabung di lokasi acara.
Meskipun hadir secara bertahap, program ini merupakan inisiasi langsung dari Dekan sebagai bentuk perhatian besar beliau terhadap pentingnya kemampuan konseling bagi jajaran pimpinan. Beliau menekankan bahwa pimpinan adalah garda terdepan dalam menjaga kesejahteraan mental di lingkungan kampus. Oleh karena itu, program ini dirancang khusus untuk membekali jajaran manajerial—mulai dari level Dekanat, Ketua Departemen, Ketua Program Studi, hingga Kepala Tata Usaha dan Subkoordinator—dengan kemampuan deteksi dini serta respons cepat terhadap distres psikologis di lingkungan kerja masing-masing.

Pimpinan berada pada posisi strategis sebagai titik kontak pertama saat anggota tim mengalami tekanan. Melalui pelatihan ini, jajaran pimpinan diharapkan mampu menjadi “konselor pertama” yang hadir secara penuh, memberikan dukungan yang bermakna, serta memastikan setiap individu di lingkungan fakultas merasa aman untuk berekspresi tanpa takut akan stigma negatif.
Kegiatan yang berlangsung dengan antusiasme tinggi diharapkan pimpinan tidak hanya berperan sebagai pengarah kinerja, tetapi juga hadir sebagai pendengar dan support system yang inklusif. Secara spesifik, program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mendalam mengenai konsep dasar kesehatan mental di lingkungan kerja akademik serta membekali para pimpinan dengan keterampilan komunikasi empatik dan teknik mendengarkan aktif (active listening).
Selain itu, pelatihan ini dirancang untuk melatih kemampuan deteksi dini terhadap tanda-tanda distres psikologis yang mungkin dialami oleh dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa. Melalui penguatan kompetensi tersebut, diharapkan akan terbangun jaringan dukungan psikologis internal yang kuat dan bebas stigma, sehingga tercipta lingkungan fakultas yang lebih sehat dan suportif bagi seluruh sivitas akademika.
Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan inti, termasuk Ketua dan Sekretaris Departemen, seluruh jajaran Ketua Program Studi (Doktor, Magister, hingga Sarjana), Kepala Tata Usaha, para Subkoordinator Subbagian, serta tim dari Unit Layanan Konseling Terintegrasi (ULKT) FILKOM UB.

Program ini difasilitasi oleh tim pakar dari Akademi Trainer, yang terdiri dari Damayanti AHa, S.Pd, S.Psi., MSc. Psi, M. Wirzal Azraqi, MBA, dan Riski Candra Karisma, M.Kes. Dengan pendekatan yang aplikatif dan reflektif, para fasilitator mengajak peserta untuk memahami bagaimana menciptakan ruang belajar dan kerja yang sehat secara mental maupun emosional.
Yuita Arum Sari, S.Kom., M.Kom., Ph.D., selaku Ketua ULKT FILKOM UB, menyampaikan bahwa kolaborasi antara FILKOM UB dan Akademi Trainer ini merupakan langkah strategis dalam mendorong terciptanya lingkungan akademik yang tidak hanya unggul dalam prestasi teknis, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan mental seluruh sivitas akademika.
Kegiatan ini bertujuan untuk membekali para pimpinan dengan ilmu tambahan agar dapat lebih berempati, serta mampu merespons dengan bijak setiap dinamika psikologis yang dihadapi oleh anggota tim maupun mahasiswa di lingkungan kerjanya,” jelas Yuita.
Sebagai penutup, program ini membawa pesan kuat bahwa kesehatan mental adalah tanggung jawab kolektif. Ketika pimpinan peduli dan hadir secara utuh bagi organisasinya, maka akan terbentuk ekosistem yang mampu melahirkan individu-individu yang sehat, berdaya tumbuh, dan siap memberikan dampak luas bagi masyarakat. Karena pada akhirnya, lingkungan yang sehat secara psikologis adalah kunci utama untuk mencapai prestasi yang berkelanjutan. (rr)