FILKOM UB Laksanakan Pembekalan Tahap II Mahasiswa Membangun Desa 2026

Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (FILKOM UB) kembali membekali para mahasiswanya sebelum diterjunkan langsung ke masyarakat. Pada Jumat, 12 Juni 2026, ratusan mahasiswa memadati Auditorium Algoritma Gedung G Lantai 2 FILKOM UB untuk mengikuti agenda Pembekalan Tahap II Mahasiswa Membangun Desa (MMD) FILKOM UB Tahun 2026.
Dosen FILKOM UB Bayu Rahayudi, S.T., M.M., membuka sesi pertama dengan membawakan tema “Penggunaan AI untuk Guru” yang sangat relevan dengan perkembangan teknologi masa kini. Di hadapan mahasiswa, beliau menguraikan bagaimana teknologi kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan secara bijak untuk membantu meringankan beban kerja para pendidik di desa tanpa mengorbankan kejujuran intelektual.
Sesi ini memberikan pemahaman dasar mengenai NotebookLM, asisten riset berbasis Artificial Intelligence (AI) dari Google yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk membantu para pendidik di desa. Platform ini hadir menjawab “Paradoks Dosen dan Guru Modern”—sebuah kondisi riil di mana beban administrasi seringkali menyita waktu persiapan mengajar. Saat menerjunkan diri dalam program MMD nanti, mahasiswa dapat membantu para guru di desa untuk memadatkan penyusunan materi pembelajaran satu semester secara efisien hanya dalam hitungan menit.
Secara definisi, NotebookLM menerapkan konsep source grounding, yaitu sistem cerdas yang hanya merumuskan jawaban berdasarkan dokumen unggahan pengguna, bukan dari data acak internet. Fitur utamanya mampu memadukan berbagai informasi, membuat ringkasan (summary), dan menghasilkan variasi luaran (output) media dari sumber terpercaya.
Pendekatan ini sengaja dihadirkan untuk membandingkan efisiensi NotebookLM dengan Generative AI umum seperti ChatGPT. Perangkat AI umum dinilai kurang memadai bagi integritas akademik karena rentan terhadap fenomena hallucination (halusinasi data). Sebaliknya, arsitektur source grounding ini terbukti mampu menghasilkan informasi yang selalu akurat dan stabil. Hal ini karena AI bekerja dengan hanya membaca berkas terpercaya yang dimasukkan oleh pengguna, sehingga tidak ada risiko salah memberikan informasi atau mengalami halusinasi data.

Melanjutkan pembekalan, sesi kedua diisi dengan pemaparan materi dari Sekretaris Desa (Sekdes) Kranggan, Adin Pangayom, S.Pd., bertajuk “Kiat Sukses Pengelolaan Media Sosial Desa”. Kehadiran Sekdes ini memberikan perspektif praktis mengenai tata cara wilayah pedesaan dalam mengemas kearifan lokal (local wisdom) di bawah payung hukum UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Adin membeberkan tiga pilar utama keberhasilan publikasi desa, yaitu:
- Ajeg (konsisten memproduksi konten berkala),
- Informatif (menyajikan data faktual yang dibutuhkan warga), serta
- Telaten (teliti mengelola arsip dan sabar merespons warga).
Berdasarkan segi teknis kesiapan operasional lapangan, beliau menyarankan mahasiswa untuk tidak mengkhawatirkan keterbatasan alat, melainkan fokus memaksimalkan peralatan taktis yang ada seperti gawai berkamera jernih, penstabil gambar (stabilizer), dan penambahan mikrofon nirkabel (wireless clip-on) guna menghasilkan suara yang jernih dari bisingnya angin pedesaan. Di samping itu, penting bagi mahasiswa untuk membangun hubungan sosial dengan memohon restu perangkat RT, RW, dan tokoh adat setempat sebelum merekam konten.
Bentuk luaran konten kreatif pun dijabarkan secara variatif. Mahasiswa MMD diarahkan agar tidak hanya terpaku pada liputan pembangunan fisik dan pembagian bantuan sosial saja, melainkan berani mengeksplorasi sisi humanis (human interest). Konten interaktif seperti video “Sehari Menjadi…” (kondisi mahasiswa ikut memanen, bertani, atau membuat kerajinan tradisional), rekomendasi kuliner tersembunyi (hidden gem), hingga penelusuran sejarah asal-usul nama desa merupakan tipe materi bernilai tinggi yang paling disukai dan berpotensi viral bagi audiens perkotaan.

Pada sesi terakhir, pembekalan tidak hanya berhenti pada kecakapan teknis, melainkan juga menyentuh aspek fundamental pembangunan karakter moral. Prima Zulvarina, S.S., M.Pd. dan Ir. Primantara Hari Trisnawan, M.Sc. ini membekali mahasiswa dengan prinsip-prinsip kokoh mengenai pembangunan Zona Integritas (ZI).
Dalam pemaparannya, Prima menganalogikan FILKOM UB adalah Rumah Kaca sebagai simbol transparansi mutlak. “Siapa yang ada di rumah kaca? Apa yang dilakukan?” untuk menggambarkan peran tiga elemen utama kampus yang saling mengunci.
Elemen tertinggi diisi oleh Pimpinan, dalam hal ini Dekan, yang bertindak sebagai kepala keluarga untuk memberikan teladan kejujuran sekaligus pondasi integritas institusi. Di lapisan tengah, Dosen dan Tenaga Kependidikan (Tendik) berperan sebagai penghuni yang bekerja melayani sepenuh hati sesuai aturan tanpa penyimpangan. Sementara itu, Mahasiswa menempati posisi strategis dengan peran ganda; sebagai tamu istimewa yang merasakan langsung kualitas pelayanan, sekaligus pengawas independen yang berjalan di koridor transparansi tersebut.
Meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) sejajar dengan memenangkan kompetisi “Rumah Terbersih dan Paling Transparan”. Keberhasilan ini bertumpu pada kolaborasi aktif pimpinan, dosen, dan mahasiswa yang disokong penuh oleh keandalan sistem.
ZI adalah komitmen bersama untuk mewujudkan lingkungan kerja yang profesional, transparan, dan akuntabel di FILKOM UB. Melalui implementasi tata kelola bersih serta penumbuhan budaya etika di lingkungan UB, mahasiswa diarahkan untuk memahami pentingnya mengawal gerakan anti-gratifikasi saat mengabdi di masyarakat nanti.

Ir. Primantara menjelaskan bahwa gratifikasi merupakan salah satu bentuk kecurangan yang paling sulit dikenali, namun dampak destruktifnya paling merusak reputasi institusi. Beliau yang juga merupakan bagian dari Tim Penanganan Pengaduan dan Pengendalian Gratifikasi (TP3G) FILKOM UB menggarisbawahi bahwa praktik terlarang ini sangat berbahaya karena mampu merusak tatanan bangsa secara perlahan dari dalam. Tindakan gratifikasi tidak hanya menciptakan mentalitas koruptif yang sistemik, tetapi juga mengikis kepercayaan publik terhadap rasa keadilan serta merobohkan nilai-nilai kejujuran yang menjadi fondasi utama kehidupan bernegara.
Bentuk langkah konkret pencegahan, beliau menegaskan kembali dua pilar utama UB dalam membangun Zona Integritas. Pilar pertama adalah Tata Kelola Bersih, sebuah upaya nyata untuk mewujudkan ekosistem kampus yang bersih, akuntabel, dan bebas dari segala bentuk korupsi dalam setiap aspek pengelolaan institusi. Pilar kedua adalah Budaya Etika, yaitu misi mendalam untuk menumbuhkan etika yang kokoh di lingkungan sivitas akademika dan tenaga kependidikan sebagai bentuk komitmen jangka panjang.
Melalui pemahaman yang mendalam mengenai pencegahan praktik curang tersebut, program MMD Tahun 2026 diharapkan dapat melahirkan luaran (output) pengabdian masyarakat yang berdampak luas, berkelanjutan, dan dilandasi oleh etika moral yang kuat. Dengan bekal prinsip ini, mahasiswa tidak hanya sekadar membawa solusi digital ke pedesaan, tetapi juga mampu bertindak sebagai agen integritas (agent of integrity) anti-gratifikasi yang proaktif membentengi masyarakat sekitar dari meluasnya budaya koruptif.
Sebagai penutup pembekalan tahap II, FILKOM UB menegaskan komitmen mutlak, menolak segala bentuk gratifikasi demi menjaga kesucian nilai akademik dan marwah pengabdian masyarakat yang bersih, transparan, serta akuntabel. (rr)