FILKOM UB Laksanakan Rapat Koordinasi KLK Bersama Dekanat

FILKOM UB Laksanakan Rapat Koordinasi KLK Bersama Dekanat

dok. PSIK FILKOM UB

Setelah melakukan kunjungan ke Kelurahan Ketawanggede pada Rabu (08/04/2026) (https://filkom.ub.ac.id/2026/04/09/kunjungan-tim-klk-filkom-ub-ke-kelurahan-ketawanggede). Tim Kampung Lingkar Kampus (KLK) Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB), Kembali melakukan rapat koordinasi, pada Senin (20/04/2026). Ketua KLK FILKOM UB Ir. Edy Santoso, S.Si., M.Kom., melaporkan hasil kunjungan kepada Dekan FILKOM UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM., terkait hasil pertemuan dengan Lurah Ketawanggede, Raden Agung Harjaya Buana, S.E., M.SE.

Edy menyampaikan bahwa terdapat dua poin krusial yang menjadi landasan kerja sama ke depan. Pertama, perlunya diadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan pihak UB untuk menyamakan persepsi, sehingga visi pengembangan program KLK dapat terintegrasi secara harmonis antara kebijakan universitas dan kebutuhan rill di lapangan. Kedua, program-program yang akan dicanangkan harus mengutamakan aspek prioritas yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat Ketawanggede, agar implementasi teknologi dan inovasi yang dibawa oleh FILKOM UB memiliki dampak guna yang berkelanjutan.

“Kelurahan Ketawanggede memiliki potensi besar untuk menjadi laboratorium sosial bagi pengembangan Smart Digital Solution and Innovation. Dengan adanya pendampingan teknis dari FILKOM UB terkait tata kelola data kelurahan serta digitalisasi layanan publik, diharapkan akan tercipta sebuah ekosistem lingkungan cerdas yang mampu meningkatkan efisiensi birokrasi sekaligus kualitas hidup warga secara signifikan.

Dekan FILKOM UB sangat mengapresiasi gerak cepat tim KLK FILKOM UB dalam menjalin komunikasi awal dengan pihak Kelurahan. Namun, beliau memberikan catatan strategis bahwa sembari menunggu jadwal FGD resmi dari pihak universitas, terdapat beberapa poin krusial yang harus segera diperhatikan oleh tim.

dok. PSIK FILKOM UB

Pertama, yang perlu dipahami secara mendalam adalah kebijakan operasional kegiatan, yang langsung diturunkan di level fakultas, sehingga sangat dibutuhkan petunjuk serta arah kebijakan yang jelas dari universitas. Beliau menyoroti bahwa tanpa koordinasi yang terpusat, setiap fakultas berpotensi bergerak sendiri-sendiri secara parsial. Kondisi saat ini, di mana kegiatan belum berada di bawah satu komando (under one direction), memerlukan perhatian khusus agar program pengabdian di lingkungan lingkar kampus dapat berjalan lebih sistematis dan terintegrasi. Hal ini menjadi domain diskusi penting di struktur atas, terutama menyangkut alokasi pendanaan. Dekan menekankan bahwa alokasi dana fakultas dalam setahun tidak akan mencukupi jika harus memenuhi pengadaan infrastruktur fisik skala besar di tingkat kelurahan—seperti pemasangan jaringan CCTV di seluruh wilayah Ketawanggede. Masalah infrastruktur makro semacam ini harus menjadi kebijakan strategis yang diputuskan dan didukung oleh universitas.

Kedua, memastikan setiap program yang dirancang tetap memberikan dampak riil bagi kelurahan melalui keunggulan kompetensi fakultas. Mengingat keterbatasan infrastruktur fisik, FILKOM UB harus lebih fokus pada pemberian dampak melalui inovasi perangkat lunak, tata kelola data, dan sistem layanan cerdas.

Sebagai langkah awal yang konkret, program yang sementara disepakati untuk dijalankan di wilayah Kelurahan Ketawanggede adalah pengembangan peta digital tiga dimensi (3D Map). Peta ini dirancang untuk memetakan aset, zonasi, serta potensi wilayah secara presisi, yang nantinya akan menjadi landasan data bagi pengambilan kebijakan pembangunan di tingkat kelurahan. 

Langkah ini merupakan manifestasi nyata dari visi Smart Digital Solution and Innovation, di mana FILKOM UB tidak hanya berfokus pada keunggulan teoritis, tetapi juga proaktif mentransformasi ide-ide kreatif menjadi inovasi teknologi yang aplikatif. Sinergi ini mempertegas komitmen fakultas untuk menghadirkan solusi digital cerdas yang mampu menjawab problematika masyarakat secara tepat guna, sekaligus menjadikan wilayah lingkar kampus sebagai pusat pertumbuhan inovasi digital yang berdampak luas. (rr)