Ubah Limbah Plastik Jadi Kaki Palsu, Mahasiswa Sistem Informasi FILKOM UB Sabet Juara di Turki

Siapa sangka tutup botol plastik yang kerap berujung di tempat sampah bisa menjadi tumpuan harapan bagi penyandang disabilitas? Lewat inovasi inilah, Muhammad Alhafiz Arya Wardhana, mahasiswa Sistem Informasi FILKOM UB angkatan 2024, berhasil mengharumkan nama almamater di ajang International Project Innovation Competition di Istanbul, Turki (13/2/2026).
Tergabung dalam PROBAPLAS Team, Arya berkolaborasi dengan talenta lintas negara, yakni Nematov Khikmatillo (Uzbekistan) selaku ketua tim, Malikha Haula Karimah (Indonesia), dan mentor Erick Xavier Maldonado (Amerika Serikat).

Proyek bertajuk “Integrated Sustainable Systems to Address the Prosthetic Accessibility Crisis and Plastic Waste” ini bukanlah sekadar ide di atas kertas. Berbulan-bulan sebelum terbang ke Turki, Arya dan tim telah turun langsung ke lapangan. Mereka melakukan riset mendalam, menguji material HDPE dari tutup botol plastik di laboratorium, hingga sukses melakukan uji coba pembuatan kaki prostetik berbiaya rendah bersama mitra lokal.
Untuk memastikan keberlanjutan proyek, tim PROBAPLAS mengintegrasikan inovasi fisik ini dengan teknologi. Mereka merancang Digital Waste Bank, sebuah website yang memfasilitasi masyarakat untuk menukar sampah plastik menjadi poin. Poin tersebut nantinya bisa didonasikan untuk mendanai produksi prostetik gratis bagi yang membutuhkan.

Bagi Arya, dunia inovasi dan teknologi bukanlah hal baru. Kiprahnya sebagai founder startup edukasi, pengalamannya sebagai IT Project Planner di PT PLN, hingga jejak kompetisinya di Malaysia menjadi bekal kuat di ajang ini. Namun, ia menyadari bahwa teknologi harus memiliki “hati”.
“Semoga pencapaian ini bisa memotivasi saya dan teman-teman untuk terus berinovasi. Khususnya menciptakan teknologi yang berdampak langsung pada kelestarian lingkungan dan membantu teman-teman disabilitas,” tutur Arya.
Melalui kolaborasi lintas negara ini, Arya membuktikan bahwa mahasiswa FILKOM UB tidak hanya jago berteori, tetapi mampu menghadirkan solusi konkret untuk permasalahan global. (rsm/nga)