Tarhib Ramadhan 1447 H FILKOM UB: Mental Health sebagai Momentum Penataan Diri

Tarhib Ramadhan 1447 H FILKOM UB: Mental Health sebagai Momentum Penataan Diri

dok. PSIK FILKOM UB

Menyambut Ramadan 1447 H, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (FILKOM UB), menyelenggarakan kegiatan Tarhib Ramadan dengan mengusung tema Mental Health di Teater Heuristic FILKOM UB pada Kamis (12/02/2026). Pengangkatan tema ini menjadi refleksi atas dinamika kehidupan sivitas akademika yang semakin akrab dengan tekanan akademik, ritme kerja cepat, serta paparan digital yang intens dalam keseharian.

Di tengah tuntutan produktivitas dan arus informasi yang tidak pernah berhenti, kesehatan mental menjadi isu yang semakin relevan. Ramadan dipandang bukan sekadar ibadah ritual tahunan, melainkan momentum strategis untuk menata ulang keseimbangan batin, pola hidup, serta hubungan spiritual. Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183–185 yang mengingatkan kembali esensi puasa sebagai jalan pembentukan ketakwaan. Nilai ketakwaan inilah yang menjadi fondasi penguatan mental: kemampuan mengendalikan diri, menata emosi, dan menghadapi tekanan hidup secara lebih matang. Dekan FILKOM UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM., dalam sambutannya mengajak seluruh sivitas akademika untuk senantiasa bersyukur karena masih dipertemukan kembali dengan Ramadhan 1447 H. Beliau juga mengingatkan bahwa tidak semua saudara memperoleh kesempatan yang sama; sebagian telah lebih dahulu dipanggil oleh Allah SWT, sementara sebagian lainnya tengah diuji dengan kondisi kesehatan maupun keterbatasan. Momentum Ramadan, oleh karena itu, hendaknya disambut dengan hati yang penuh syukur, empati, dan kesiapan untuk memperbaiki diri.

Tarhib yang dihadiri oleh dosen, tenaga kependidikan dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) FILKOM UB ini menghadirkan narasumber dr. Arief Alamsyah, MARS, Dosen Fakultas Kedokteran UB.

Dalam penyampaian materinya, dr. Arief menjelaskan bahwa dalam tubuh manusia terdapat dopamin, yaitu neurotransmiter yang berperan dalam sistem reward, motivasi, dan pembentukan semangat. Dopamin dilepaskan sebagai respons terhadap berbagai stimulus, seperti makanan tinggi gula dan lemak, konsumsi media sosial, hiburan instan, serta pola tidur yang tidak teratur. Paparan stimulus yang terjadi berulang kali dapat memicu lonjakan dopamin secara terus-menerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan penurunan sensitivitas reseptor dopamin, sehingga otak membutuhkan stimulus yang lebih besar untuk merasakan tingkat kepuasan yang sama. Akibatnya, hal-hal sederhana terasa kurang menyenangkan, individu menjadi lebih mudah bosan, serta motivasi dan semangat cenderung menurun.

“Peran puasa bagi mental health atau kesehatan mental kita adalah menghadirkan proses penataan ulang, pada sisi spiritual maupun pada sistem biologis tubuh. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan latihan komprehensif dalam mengelola dorongan, emosi, serta pola kebiasaan sehari-hari. Pada konteks neuropsychologist, puasa membantu mengurangi paparan stimulus berlebihan yang selama ini memicu lonjakan dopamin secara terus-menerus. Ketika asupan makanan tinggi gula dibatasi, distraksi digital dikurangi, dan pola aktivitas menjadi lebih teratur, sistem reward otak memperoleh kesempatan untuk beristirahat dan menyesuaikan kembali sensitivitasnya. Berkurangnya lonjakan dopamin yang instan, membuat otak kita belajar kembali merespons hal-hal sederhana secara lebih proporsional. Self-reward saat berbuka membuat rasa nikmat menjadi lebih bermakna karena diperoleh melalui proses menahan diri sepanjang hari,” jelas dr. Arif.

dok. PSIK FILKOM UB

Lebih lanjut, dr. Arif menjelaskan bahwa puasa adalah latihan kesabaran dan pengendalian diri. Ketika seseorang menahan lapar, haus, dan dorongan emosional, ia sedang belajar mengelola dirinya sendiri. Latihan sederhana ini membantu membentuk kedewasaan sikap, memperkuat kontrol diri, serta menjaga kestabilan emosi dalam kehidupan sehari-hari. Puasa juga mendorong perbaikan pola hidup. Waktu makan menjadi lebih teratur, pola istirahat lebih diperhatikan, dan aktivitas spiritual mengalami peningkatan. Ritme harian yang lebih tertata ini membantu tubuh dan pikiran bekerja dalam keseimbangan. Lebih dari itu, puasa dapat dipahami sebagai sarana detoksifikasi alami—bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi sistem reward otak dan pola perilaku. Selama berpuasa, ritme kebiasaan yang sebelumnya dipenuhi paparan gawai dan hiburan instan perlahan bergeser menuju aktivitas yang lebih reflektif dan bermakna. Porsi waktu yang biasanya tersita untuk membuka gawai dapat dialihkan untuk membuka mushaf Al-Qur’an, membaca, dan merenungkan maknanya. Pergeseran kebiasaan ini bukan sekadar perubahan aktivitas, melainkan upaya menata ulang sumber kepuasan: dari yang serba cepat menuju ketenangan yang lebih mendalam dan menyehatkan jiwa. Kemuliaan Rasulullah Muhammad ﷺ menjadi teladan utama dalam pengamalan Al-Qur’an. Beliau dimuliakan karena di dalam hatinya bersemayam Al-Qur’an; nilai-nilai wahyu tidak hanya dibaca, tetapi juga dihidupkan dalam setiap sikap dan perilaku. Kesehatan mental pun erat kaitannya dengan keluasan hati dalam berbuat baik. Memberikan perhatian kepada anak-anak di luar lingkungan keluarga, berbagi rezeki melalui sedekah kepada mereka yang membutuhkan, serta menghadirkan manfaat bagi sesama merupakan ladang amal yang dilipatgandakan pahalanya, terlebih di bulan Ramadan, sekaligus menjadi sumber ketenangan dan kekuatan batin. (rr/dk)

مَرْحَبًا يَا رَمَضَانُ، شَهْرَ الرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ وَالْبَرَكَةِ

Selamat datang wahai Ramadan, bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan.