Menembus Batas Blank Spot Hingga Pasar Karbon: Dua Tim PKM FILKOM UB Sukses Lolos Pendanaan dan Insentif Nasional Tahun 2026

Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (FILKOM UB) kembali merawat tradisi prestasinya dengan meloloskan tim mahasiswa dalam pengumuman Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026. Pengumuman rilis resmi pada Sabtu (23 Mei 2026), satu tim berhasil menembus jajaran penerima pendanaan PKM Karsa Cipta (PKM-KC), sementara satu tim lainnya sukses meraih penghargaan insentif pada kategori PKM Gagasan Futuristik Tertulis (PKM-GFT). Keberhasilan ini menjadi bukti nyata kepedulian mahasiswa dalam meretas berbagai problematika krusial, mulai dari sistem penyelamatan bencana di lapangan hingga tata kelola ekonomi hijau global untuk masa depan.

Inovasi pertama datang dari ranah mitigasi bencana melalui tim PKM-KC yang dipimpin oleh Keirio Omar Attallah (Teknik Komputer ’24). Berkolaborasi dengan Alexander Agung Widhi Primata, Muhammad Raiz Belyaa, Bimo Satrio (Teknik Komputer), dan Danish Ghozian Pramudya (Sistem Informasi), tim di bawah bimbingan dosen Wijaya Kurniawan, S.T., M.T., Ph. D., ini merancang sebuah aplikasi bertajuk PointRescue.
PointRescue lahir sebagai solusi atas sebuah paradoks penanganan darurat bencana alam. Ketika bencana melanda, infrastruktur komunikasi seluler sering kali lumpuh total dan menciptakan zona tanpa sinyal (blank spot). Kondisi ini kerap menjadi dinding pembatas yang mematikan bagi tim penyelamat. Alat komunikasi konvensional seperti radio Handy Talkie (HT) memiliki keterbatasan fatal karena tidak mampu mengirimkan data lokasi secara otomatis dan akurat. Padahal, kecepatan evakuasi pada masa kritis (golden hours) sangat menentukan keselamatan jiwa korban.
Menjawab tantangan tersebut, Keirio dan timnya menciptakan perangkat pelacak taktis mandiri (wearable device) berbasis algoritma controlled flooding. Sistem yang saat ini prototipenya masih dalam tahap pengembangan intensif tersebut mengandalkan jaringan radio terintegrasi tanpa sedikit pun bergantung pada sinyal operator seluler maupun langganan satelit komersial yang mahal.
Keunggulan utama dari pengembangan prototipe wearable device berbasis ad-hoc networking ini terletak pada kemampuannya membentuk jaringan komunikasi antar-perangkat secara otomatis. Melalui sistem cerdas tersebut, jangkauan sinyal pelacakan bisa saling terhubung dan meluas secara mandiri, meski berada di medan yang ekstrem seperti hutan lebat atau area pegunungan.
“Secara fungsional, perangkat ini didesain sangat praktis dan intuitif. Ketika korban berada dalam kondisi panik, mereka hanya perlu melakukan satu gerakan mudah untuk memicu sistem darurat instan yang akan mengirimkan koordinat lokasi akurat langsung ke posko penyelamat,” jelas Keirio.

Didesain dengan efisiensi energi yang optimal serta daya tahan fisik yang tangguh, komponen PointRescue dibuat menggunakan sistem modular yang fleksibel sehingga mudah diperbaiki atau diperbarui (upgrade) perangkat lunaknya di lapangan. Perangkat bernilai ekonomis tinggi ini sangat potensial untuk diadopsi secara berkelanjutan oleh instansi kebencanaan, tim Search and Rescue (SAR), hingga komunitas pencinta alam.
“Melalui pendanaan PKM-KC ini, fokus utama kami adalah merampungkan perwujudan prototipe fisik agar siap diuji coba secara nyata di lapangan. Target besar kami adalah membawa inovasi ini melaju hingga ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) dan menjadi cikal bakal teknologi keselamatan yang berdampak nyata bagi mitigasi bencana di tanah air,” ungkap Keirio penuh optimisme.

Jika tim PKM-KC berfokus pada perangkat fisik, maka tim PKM-GFT yang dikomandani oleh Darryl M. Immanuel Panggabean (Sistem Informasi ‘24) bersama dosen pendamping Dr. Okta Purnawirawan, S.Pd., M.Pd. Gr., dan anggota tim yaitu Faliha Aulia (Sistem Informasi ‘24); Jeanete Arthika Lorentz Rajagukguk (Sistem Informasi ‘24); Faluppi Surjannah Mulya (Sistem Informasi ‘25); dan Haidar Abdad (Ekonomi Islam ‘23) menembus batas masa depan melalui Gagasan Futuristik Tertulis bertajuk GreenChain. Inovasi ini dirancang khusus untuk mendisrupsi pasar karbon nasional guna mengeliminasi praktik double counting menuju target Net Zero Emission 2060.
Darryl menjelaskan bahwa tata kelola pasar karbon Indonesia saat ini masih terjebak dalam kontradiksi besar. Di satu sisi, kekayaan hutan tropis dan lahan gambut Indonesia menyimpan potensi Nilai Ekonomi Karbon (NEK) fantastis yang diperkirakan mencapai Rp8.000 triliun. Namun di sisi lain, sistem verifikasi fisik konvensional yang manual dan tersentralisasi memicu ketidaktransparanan sistemik. Akibatnya, muncul dua isu krusial yang mengikis kepercayaan investor global: double counting (klaim ganda atas satu unit karbon) dan greenwashing (klaim ramah lingkungan palsu yang tidak dapat diverifikasi secara objektif). Selain itu, posisi masyarakat adat sebagai garda terdepan penjaga hutan kerap terpinggirkan oleh birokrasi yang rumit dan mahal.
Sebagai antitesis, GreenChain hadir menggeser sistem berbasis kepercayaan (trust-based system) yang rawan manipulasi menjadi sistem tanpa kepercayaan (trustless system) yang digerakkan oleh kepastian kode algoritma. Gagasan futuristik ini mengintegrasikan tiga komponen teknologi mutakhir:
- Satelit LEO dan IoT: Data kondisi tutupan kanopi hutan dipantau dari luar angkasa menggunakan satelit Low Earth Orbit (termasuk satelit NEO-1 milik BRIN) dan divalidasi secara real-time dengan sensor Internet of Things (IoT) seperti dendrometer pada pohon.
- Kecerdasan Buatan dan Blockchain: Data mutakhir tersebut diproses oleh Artificial Intelligence (AI). Jika dinyatakan valid, smart contract dalam jaringan blockchain akan secara otomatis menerbitkan sertifikat karbon tanpa campur tangan manusia, memotong birokrasi dan biaya verifikasi hingga 50%.
- Inklusivitas Wilayah Terpencil: Guna mengatasi masalah blank spot di hutan pedalaman, tim menggagas mekanisme Local Data Aggregator. Sistem ini memungkinkan masyarakat adat menginput data secara luring (offline), yang kemudian akan otomatis tersinkronisasi ke jaringan blockchain begitu koneksi internet tersedia.
Dari aspek arsitektur teknologi, GreenChain dirancang menggunakan Consortium Blockchain dengan mekanisme konsensus Proof of Stake (PoS) yang ramah lingkungan karena konsumsi energinya hampir mendekati nol. Keberlanjutan gagasan ini telah dipetakan dalam sebuah roadmap jangka panjang 15–20 tahun yang terstruktur, dimulai dari proyek percontohan (pilot project) di hutan adat, integrasi ke Sistem Registri Nasional (SRN-PPI) Kementerian LHK, hingga ekspansi ke pasar global lintas batas.
“Mengingat skema yang kami ikuti adalah PKM-GFT, luaran utama kami adalah sebuah dokumen konseptual atau blueprint arsitektur sistem. Kami berharap dokumen gagasan ini dapat berkembang menjadi rekomendasi strategis bagi Kementerian LHK, BRIN, OJK, serta pengelola bursa karbon dalam membangun infrastruktur ekonomi hijau yang akuntabel, modern, dan berkelanjutan,” pungkas Darryl.
“Kami sadar GreenChain bukan sekadar gagasan teknologi ini tentang keadilan. Ketika masyarakat adat yang paling berjasa menjaga hutan justru paling sulit mengakses manfaat ekonominya, ada yang salah dengan sistemnya. GreenChain hadir untuk membalik kondisi itu,” ujar Faluppi, salah satu anggota tim PKM-GFT.
Prestasi gemilang kedua tim ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa FILKOM UB tidak hanya unggul di atas kertas, namun juga visioner dalam meretas belenggu keterbatasan teknologi demi kemaslahatan umat manusia dan kelestarian bumi. (ko/dm/rr)