Tim AITF FILKOM UB Kunjungi SRMA 22, untuk Mantapkan Program Kerja

Tim AITF FILKOM UB Kunjungi SRMA 22, untuk Mantapkan Program Kerja

dok. PSIK FILKOM UB

Program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) yang dibuka di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB), pada Rabu (11/3/2026) (https://filkom.ub.ac.id/2026/03/11/filkom-ub-tuan-rumah-pembukaan-workshop-1-artificial-intelligence-talent-factory-2026/), telah memasuki paruh akhir. AITF yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi. AITF tahun 2026 melibatkan tiga perguruan tinggi negeri, yaitu UB, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). 

Dalam pelaksanaannya, Tim AITF FILKOM UB berfokus pada dua use case utama, yaitu pengembangan sistem berbasis kecerdasan artifisial/AI untuk Sekolah Rakyat serta Pemetaan Kemiskinan & Bantuan Sosial di Jawa Timur. Sebagai bagian dari pendalaman data dan lapangan, tim melakukan kunjungan kerja ke Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Kota Malang pada Kamis (30/4/2026). 

SRMA sendiri merupakan institusi pendidikan berasrama gratis bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera (desil 1-4) yang mulai beroperasi sejak Juli 2025. Dengan kurikulum yang menitikberatkan pada pembentukan karakter dan capaian akademik, SRMA menjadi program strategis pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan antar-generasi melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia. 

Kedatangan tim FILKOM UB disambut hangat oleh Kepala Sekolah SRMA 22, Rahmah Dwi Nor Wita Imtikhanah, S.Pd., M.Sc., beserta jajaran pengajar. Delegasi FILKOM UB dipimpin langsung oleh Wakil Dekan Bidang Akademik sekaligus Ketua Pelaksana Kegiatan AITF UB 2026, Sabriansyah Rizqika Akbar, S.T., M.Eng., Ph.D., didampingi Ketua Pelaksana Kegiatan Kunjungan, Rizal Setya Perdana, S.Kom., M.Kom., Ph.D., tim dosen pembimbing, serta mahasiswa peserta AITF. Tim AITF FILKOM UB membagi tugas ke dalam enam kelompok spesialisasi, yaitu:

  • Tim 1: Deep Learning (DL) Emotion Analyzer yang berperan sebagai ahli klasifikasi emosi siswa.
  • Tim 2: Large Language Model (LLM) Learning Content Expert sebagai ahli dalam penyusunan konten belajar.
  • Tim 3: Retrieval-Augmented Generation (RAG) + Agentic AI yang fokus pada pembuatan konten belajar dinamis (Learning Content Generator).
  • Tim 4: Large Language Model (LLM) untuk Game Asset Generator dan Game Engine guna menyusun parameter gim edukasi.
  • Tim 5: Large Language Model (LLM) sebagai Private Mentor Chatbot yang bertindak sebagai mentor pribadi bagi siswa.
  • Tim 6: Pengembang aplikasi Minimum Viable Product (MVP) yang mencakup fungsi Front-End, Back-End, hingga DevOps.
dok. PSIK FILKOM UB

Dalam sambutannya, Sabriansyah menjelaskan bahwa FILKOM UB berkomitmen penuh untuk mendukung setiap aktivitas yang diselenggarakan oleh SRMA 22. Disampaikan pula adanya peluang besar untuk memperkuat konsep link and match antara perguruan tinggi dan sekolah menengah, baik dalam ranah pendidikan maupun pengabdian masyarakat.

Ditegaskan bahwa pihak fakultas sangat terbuka jika ke depannya SRMA 22 membutuhkan pendampingan dari dosen maupun mahasiswa, terutama untuk program upskilling atau peningkatan kompetensi teknologi. Selain aspek akademis, interaksi antara siswa SRMA dengan mahasiswa diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi para siswa dalam mengejar cita-cita mereka.

“Melalui program AITF ini, kami menekankan pengembangan sistem yang bersifat sosio-teknis. Artinya, teknologi yang kita kembangkan tidak hanya unggul secara teknis di atas kertas, tetapi harus memiliki dampak sosial nyata bagi lingkungan sekolah. Saya tidak meragukan kapabilitas mahasiswa FILKOM dalam bidang AI dan teknis lainnya, namun satu hal yang krusial adalah memastikan bahwa sistem yang dibangun benar-benar berinteraksi dengan baik dan memberikan manfaat, bukan justru merepotkan pengguna di lapangan. Harapan besar kami adalah integrasi teknologi ini mampu memberikan dampak sosial yang signifikan, sekaligus mendorong SRMA 22 menjadi pionir inovasi sekolah rakyat, baik di Jawa Timur maupun di tingkat nasional. Oleh karena itu, jangan ragu untuk berkolaborasi lebih jauh. FILKOM UB memiliki agenda rutin tahunan untuk pengabdian masyarakat, dan kami siap mengarahkan sumber daya yang kami miliki untuk mendukung program-program di SRMA 22, termasuk dalam peningkatan kompetensi guru maupun pengembangan infrastruktur digital sekolah,” jelas Sabriansyah.

Sementara itu, Kepala Sekolah SRMA 22, Rahmah Dwi Nor Wita, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas pendampingan dari para dosen dan mahasiswa FILKOM UB. Ia juga memaparkan kondisi sekolah yang saat ini masih dalam tahap rintisan.Rahmah memohon maaf atas keterbatasan fasilitas yang tersedia, mengingat SRMA 22 merupakan sekolah rintisan yang baru berjalan selama delapan bulan dengan menempati gedung existing yang peruntukannya bukan untuk sekolah. Meskipun memiliki akses ke Aula BPSDM, fasilitas tersebut belum dapat digunakan hingga Juli mendatang karena sedang dipakai untuk pelaksanaan CPNS, sehingga pertemuan harus dilangsungkan dalam kondisi apa adanya.

“Dari potret demografi siswa SRMA, didominasi oleh 44 siswa perempuan dan 25 siswa laki-laki. Dari segi asal daerah, mayoritas siswa merupakan warga Kota Malang sebanyak 50 orang, diikuti oleh Kabupaten Malang sebanyak 18 orang, serta seorang siswa dari Kabupaten Magetan. Latar belakang keluarga siswa pun cukup beragam, dengan catatan 13 siswa berstatus yatim, 4 siswa piatu, dan 3 siswa yatim piatu. Berdasarkan tingkat kesejahteraan, sekolah ini membina 30 siswa dari kelompok Desil 1, 21 siswa dari Desil 2, dan 18 siswa lainnya dari kategori di luar desil tersebut. Untuk riwayat pendidikan, adanya keberagaman usia atau gap year di antara para murid, yang menciptakan irisan antara generasi Z dan generasi Alpha. Mayoritas atau sebanyak 57 siswa merupakan lulusan tahun 2025 yang langsung melanjutkan sekolah tanpa jeda. Namun, terdapat pula siswa yang sempat mengalami putus sekolah, yakni 12 siswa lulusan tahun 2024 dengan jeda satu tahun, serta masing-masing 2 siswa lulusan tahun 2023, 2022, dan 2021 yang sempat mengalami jeda pendidikan selama dua hingga empat tahun.

dok. PSIK FILKOM UB

Meski dalam kondisi banyak keterbatasan, Rahmah menyatakan kebanggaannya atas terpilihnya SRMA 22 sebagai pilot project yang bekerja sama dengan Komdigi dan FILKOM UB. Ia berharap kolaborasi ini dapat memberikan dampak nyata bagi kualitas pendidikan siswa di SRMA 22.

Sesi diskusi yang dipandu oleh Barlian Henryranu Prasetio, Ph.D., mengungkap kendala nyata di lapangan. Dewi Maf’ula, guru Bahasa Indonesia, menyampaikan kekhawatirannya terhadap penggunaan ChatGPT yang instan tanpa filter oleh siswa.

Menanggapi hal tersebut, Sabriansyah Rizqika Akbar, S.T., M.Eng., Ph.D., selaku Ketua Pelaksana, menjelaskan bahwa sistem yang dibangun akan memberikan otoritas penuh kepada guru melalui dashboard pemantauan.

“Teknologi ini memungkinkan guru melakukan mapping dan analisis terhadap prompt siswa. Jawaban AI tidak akan diberikan secara instan, melainkan secara gradual sesuai tingkat kesulitan untuk mendorong berpikir kritis,” tambahnya.

Melengkapi penjelasan tersebut, Jeremy Ivander Damanik dari tim 6 (MVP) menjelaskan bahwa platform yang mereka kembangkan akan mengintegrasikan seluruh layanan AI tersebut dalam satu ekosistem stabil. Platform ini akan menyediakan fitur pre-test adaptif, materi interaktif, hingga rekomendasi otomatis bagi guru berdasarkan progres siswa secara real-time.

Kunjungan ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk memastikan bahwa inovasi teknologi yang dikembangkan di laboratorium FILKOM UB dapat benar-benar memajukan kualitas sumber daya manusia di SRMA 22 Malang. Langkah ini merupakan manifestasi nyata dari visi Smart Digital Solution and Innovation, di mana FILKOM UB tidak hanya berfokus pada keunggulan teoritis, tetapi juga proaktif mentransformasi ide-ide kreatif menjadi inovasi teknologi yang aplikatif. Sinergi ini mempertegas komitmen fakultas untuk menghadirkan solusi digital cerdas yang mampu menjawab problematika masyarakat secara tepat guna. (rr)