FILKOM UB Gelar Kuliah Tamu Kewirausahaan, Tegaskan Validasi Product-Market Fit sebagai Kunci Sukses Startup

Di era disrupsi teknologi saat ini, keberhasilan sebuah startup atau produk digital tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan fiturnya, melainkan sejauh mana produk tersebut mampu menjawab kebutuhan riil pasar yang spesifik. Validasi Product-Market Fit menjadi kunci fundamental untuk memastikan bahwa solusi yang ditawarkan benar-benar diterima dan dibutuhkan oleh target audiens yang tepat.
Berkaitan dengan hal tersebut, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (FILKOM UB), berupaya terus memupuk semangat kewirausahaan dan membekali mahasiswa dengan wawasan praktis dunia industri digital. Bertempat di Auditorium Algoritma, FILKOM UB, digelar kuliah tamu kewirausahaan pada Jumat (10/04/2026). Acara ini dilaksanakan secara hybrid, menghadirkan mahasiswa secara luring di auditorium dan juga daring melalui platform GMeet, guna menjangkau partisipasi yang lebih luas. Hadir sebagai narasumber utama adalah Rachmat Anggara, Co-Founder sekaligus CEO Qasir.id.
Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Pelaksana Kegiatan, Dr.Eng. Irawati Nurmala Sari, S.Kom., M.Sc. Dalam sambutan pembukanya, Dr.Eng. Irawati menyampaikan harapan besar agar kuliah tamu ini dapat menjadi sarana efektif bagi mahasiswa untuk menimba ilmu langsung dari praktisi.
“Dengan kehadiran narasumber hari ini, harapannya dapat memberikan insight yang mendalam bagi mahasiswa, terutama mengenai realitas dan tantangan membangun startup dari nol. Ilmu yang dibagikan diharapkan dapat menginspirasi dan menjadi bekal berharga bagi mahasiswa yang berminat terjun ke dunia technopreneurship,” ujarnya.

Memasuki sesi utama, Rachmat menjelaskan bahwa Qasir.id merupakan sebuah platform Point of Sales (POS). Secara sederhana, POS adalah sistem kasir digital modern yang tidak hanya berfungsi untuk mencatat transaksi penjualan, tetapi juga terintegrasi untuk mengelola stok barang, memantau laporan keuangan secara real-time, hingga mengelola data pelanggan dalam satu aplikasi.
Dalam paparannya, Rachmat menonjolkan visi yang diusung oleh Qasir.id, yaitu pendekatan “product first, profit first“. Visi ini menekankan pentingnya membangun produk yang solid dan benar-benar solutif terlebih dahulu, yang pada akhirnya akan secara alami mendatangkan profitabilitas yang berkelanjutan bagi perusahaan. Rachmat menegaskan bahwa pondasi utama dari visi ini adalah pemahaman mendalam mengenai apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh pengguna, yang hanya dapat dicapai dengan menjaga kedekatan dengan customer di setiap tahap pengembangan produk.
Berangkat dari visi tersebut, Rachmat kemudian menyoroti satu aspek krusial yang sering diabaikan oleh wirausahawan pemula, yaitu validasi Product-Market Fit.
“Kunci utama kesuksesan sebuah produk startup bukanlah seberapa canggih teknologinya, melainkan sejauh mana produk tersebut mampu menjawab kebutuhan riil pasar. Pertanyaan mendasar yang harus dijawab adalah: Jika orang lain menggunakan produk kita, apakah mereka mau membayar untuk itu? Inilah inti dari validasi pasar,” jelas Rachmat.
Oleh karena itu, Rachmat menegaskan bahwa langkah paling krusial sebelum meluncurkan produk adalah melakukan penemuan masalah (finding masalah) yang benar-benar dihadapi oleh target pasar spesifik. Proses ini membutuhkan kedekatan langsung dengan pengguna untuk menggali kebutuhan yang sesungguhnya (finding what they need), sebelum akhirnya merumuskan penemuan solusi (finding solution) yang tepat guna dan berkelanjutan.
Setelah fondasi tersebut kuat, CEO Qasir.id ini kemudian membedah secara teknis cara mengukur validasi Product-Market Fit tersebut melalui serangkaian corong (funneling) metrik yang terukur. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah produk digital dapat dipantau melalui unsur-unsur bertahap, mulai dari tingkat kesadaran pasar (awareness), ketertarikan awal (leads), jumlah unduhan (install), proses pendaftaran pengguna (register), hingga akhirnya mencapai tahap pengguna aktif yang melakukan pembayaran (active paid).
Kuliah tamu ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang antusias, di mana mahasiswa (baik yang hadir secara luring maupun daring) memanfaatkan kesempatan untuk berdiskusi langsung mengenai tantangan validasi ide bisnis mereka. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan FILKOM UB dalam mendekatkan kurikulum akademik dengan dinamika industri teknologi terkini. (rr)