Podcast FILKOM UB: Seni Berdamai dengan Burnout dan Ekspektasi Quarter-Life Crisis

Di tengah tuntutan akademik yang semakin tinggi, fenomena mahasiswa yang kehilangan antusiasme hingga melakukan aksi ‘ghosting’ saat bimbingan skripsi menjadi perhatian serius bagi para pendidik. Menanggapi realitas ini, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) menghadirkan Podcast FILKOM UB: Ruang Cerita bertajuk “Ngobrolin Capek Saat Burnout Ketemu Quarter-Life Crisis” pada Kamis (12/3/2026).
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber lintas generasi, Dr. Kasyful Amron, S.T., M.Sc. dan Dr. Edita Rosana Widasari, S.T., M.T., M.Eng., Ph.D., dengan dipandu oleh Maurish Sofie Rahmi Batita, S.Pd., M.Ed., Ph.D. sebagai moderator.
Membuka diskusi, Maurish menyoroti perilaku mahasiswa di kelas yang tampak hadir secara fisik namun kosong secara mental. Ada mahasiswa yang datang hanya untuk menggugurkan kewajiban, bahkan ada yang tiba-tiba hilang tanpa kabar meskipun sudah dimotivasi. Ini menandakan ada faktor mental mendalam yang sedang mereka hadapi, ungkapnya.
Dr. Edita Rosana Widasari menegaskan bahwa burnout bukanlah hal tabu, melainkan alarm tubuh akibat kelelahan fisik, mental, dan emosional yang terjadi secara bersamaan dan berkepanjangan. Beliau membagikan pengalaman pribadi saat menempuh studi S3 di Jepang, ketika harus menjalani aktivitas perkuliahan dan riset laboratorium sambil mengurus keluarga serta mengasuh bayi di luar negeri, bertepatan dengan wafatnya sang ayah secara mendadak.
“Saya sempat merasa sesak napas selama satu minggu. Padahal, secara medis kondisi tubuh saya sehat. Ternyata, itu adalah manifestasi stres. Karena itu, penting bagi kita untuk menurunkan standar diri agar tidak terjebak dalam perfeksionisme yang berlebihan. Rumah tidak harus bersih setiap hari, dan nilai A tidak harus selalu 100. Kita perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, mengekspresikan emosi, dan menerima bahwa merasa tidak baik-baik saja adalah hal yang wajar.” cerita Dr. Edita.
Sisi lain dari perjuangan mental dibagikan oleh Dr. Kasyful Amron saat menempuh studi di Jerman. Menjadi satu-satunya perwakilan institusi di lingkungan yang asing, ia sempat mengalami syok budaya dan bahasa.
“Ekspektasi saya semua akan berjalan lancar, tapi realitanya saya harus belajar dua hingga tiga kali lebih lama dibanding rekan lainnya hanya untuk memahami topik yang sama dari profesor,” kenangnya
Rasa ingin menyerah sempat muncul di minggu-minggu awal, namun komitmen terhadap keluarga menjadi penyemangat. Dr. Kasyful bahkan kerap menghabiskan waktu hingga 12 jam di perpustakaan yang terbuka 24 jam untuk mengejar banyak ketertinggalan. Baginya, kata “tidak sanggup” harus dihapus sementara dari kamus selama tujuan utama belum tercapai.
Diskusi ini menyimpulkan bahwa tantangan hidup akan terus berganti wajah, mulai dari burnout kuliah hingga krisis identitas di masa depan. Untuk menghadapinya, narasumber menekankan pentingnya konsep “Remedial Kehidupan”:
- Evaluasi Diri: Berhenti sejenak untuk memeriksa apakah niat dan cara kita sudah tepat.
- Ikhlas dan Validasi Emosi: Menerima setiap ujian sebagai bagian dari proses pendewasaan tanpa perlu berpura-pura kuat setiap saat.
- Berserah Diri: Setelah usaha maksimal (ikhtiar) dilakukan, menyerahkan hasil akhir kepada Sang Pencipta adalah kunci utama ketenangan batin.
Melalui Podcast FILKOM UB ini, diharapkan mahasiswa dapat melihat bahwa kelelahan adalah bagian dari perjalanan, bukan tanda kegagalan. Dengan mengubah perspektif dan menurunkan ekspektasi yang tidak realistis, setiap ujian kehidupan dapat dihadapi dengan lebih tangguh dan sehat secara mental. (rr)