01_Prof_Tsuchiya
14:49

Prof. Noriyoshi Tsuchiya: Penerapan Teknologi GIS dalam Berbagai Bidang Kajian Ilmu Pengetahuan

Penerapan teknologi Geographic Information System (GIS) semakin berkembang di berbagai bidang kajian ilmu pengetahuan. Untuk itu mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (FILKOM UB) perlu menambah wawasannya tentang perkembangan penggunaan GIS di berbagai bidang untuk menambah kompetensinya setelah lulus nanti agar lebih siap bersaing di dunia kerja. FILKOM memfasilitasi kebutuhan tambahan wawasan tersebut dengan mengundang Prof. Noriyoshi Tsuchiya dari Tohoku University, Jepang untuk berbagi pengetahuannya tentang penerapan teknologi GIS dalam berbagai bidang kajian ilmu pengetahuan pada jumat (22/2/2019).

Pada kuliah tamu kali ini, Prof. Tsuchiya membagi paparannya menjadi tiga bagian. Materi pertama tentang penggunaan teknologi GIS untuk mengetahui sebaran polusi di suatu wilayah. Penelitian terkait hal ini telah dilakukan oleh Prof. Tsuchiya beserta timnya untuk mengetahui sebaran polusi di daerah Sendai, Prefektur Miyagi, Jepang. Dengan menggunakan teknologi GIS akan dapat diketahui seberapa tinggi kandungan logam berat (Cu, Pb dan Zn) di suatu daerah. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar ilmiah bagi pemerintah daerah untuk mengambil kebijakan terkait penanganan polusi di wilayahnya.

02_kultam_GIS_for_geothermalMateri kedua yang disampaikan Prof. Tsuchiya pada kesempatan tersebut adalah tentang GIS for Supercritical Geothermal Resources. Materi ini membahas tentang penggunaan GIS untuk mencari wilayah potensial yang memiliki sumber daya geothermal. Selain itu juga membahas tentang penggunaan GIS untuk mengevaluasi sumber daya geothermal yang berada di daerah kritis. Sudah banyak sekali pembahasan yang menyebutkan bahwa dunia saat ini sangat membutuhkan sumberdaya energi baru untuk menjaga kelangsungan ketersediaan energi di masa depan. Diantara sumber energi baru tersebut adalah geothermal. Energy geothermal merupakan sumber energi terbarukan yang sangat potensial dikembangkan di Indonesia, karena wilayah Indonesia yang berada pada jalur Ring of Fire. Potensi ini harus dikaji dan dikembangkan dengan optimal agar menjadi manfaat bagi masyarakat Indonesia, karena saat ini sumber energi utama yang didistribusikan ke masyarakat berasal dari batubara. Sementara itu, batubara merupakan sumber energi konvensional yang terbatas jumlahnya dan berakibat buruk pada lingkungan. Berbeda dengan energi geothermal yang tidak terbatas dan terus menerus memberikan sumber daya yang berguna jika dimanfaatkan dengan baik. Hingga saat ini baru dua negara yaitu Finlandia dan Newzealand yang telah mengoptimalkan penggunaan energi geothermal sebagai sumber energi utamanya. Terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan untuk menggali GIS database untuk geothermal, yaitu dengan geological approach dan geophyspical approach.

Sementara itu materi ketiga adalah GIS for Environmental Assessment yaitu penggunaan GIS untuk melakukan penilaian lingkungan. Dasar teori yang perlu dimiliki untuk implemetasi GIS ini meliputi machine-learning, deep-learning, neural network, bayes dan sparse modelling. Sebagai penutup Prof. Tsuchiya juga menyampaikan informasi tentang International Environmental Leader Program (IELP) yang diselenggarakan oleh Tohoku University. Bagi yang berminat untuk ikut dalam program ini juga dapat mengajukan financial support atau beasiswa ke pemerintah Jepang melalui Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology Japan (MEXT). Informasi lebih lanjut tentang program IELP dapat dilihat di www.kankyo.tohoku.ac.jp/ielp/.

 

 

Share