01_first_winner_ASNC_2019
09:34

Mahasiswa FILKOM 1st Winner Speech Contest ASNC 2019

Gregorius Ivan Sebastian mahasiswa Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (FILKOM UB) menjadi 1st Winner of Speech Varsity Level dalam Event Annual Saeed National Competition (ASNC) 2019 yang diselenggarakan oleh UIN Sunan Gunung Jati Bandung pada 29-31 Maret 2019. Dalam kompetisi pidato dalam bahasa Inggris tersebut Greg berhasil menyisihkan 20 peserta lainnya yang berasal dari berbagai universitas di Indonesia, antara lain TELKOM University, Mercu Buana University, Universitas Multimedia Nusantara dan UPN Veteran Yogyakarta.

Terdapat dua tahapan yang harus dilalui Greg sebelum dinobatkan sebagai yang terbaik dalam kompetisi tersebut. Seleksi tahap pertama adalah babak penyisihan dimana 21 peserta harus melakukan presentasi speech dalam bahasa Inggris dengan alokasi waktu 5 hingga 7 menit dengan tema “Penerapan Game untuk Sistem Edukasi di Indonesia”. Dari babak penyisihan tersebut hanya dipilih 5 peserta terbaik untuk maju ke babak final. Dalam babak final peserta diberikan sebuah topik untuk bahan presentasi yaitu “Bagaimana cara mengatasi victim blaming”. Peserta hanya diberikan waktu 30 menit untuk merancang dan menyusun pidatonya sesuai topik sebelum kemudian harus mempresentasikannya dihadapan juri. Juri yang hadir pada kesempatan tersebut adalah Yusuf Hamzah selaku Indonesian Delegate to Students Youth Forum, University of Malaya, Malaysia 2011 dan Nadira Aurelya Artana selaku 3rd Place in West Java Language Ambassador-Ministries of Education Culture 2017.

Dari babak final tersebut kemudian ditetapkan dua peserta terbaik dimana Greg menjadi 1st winner, sementara 2nd winner adalah perwakilan TELKOM University. Greg mengaku banyak mendapatkan manfaat dari keikutsertaannya dalam kompetisi tersebut. Salah satunya dapat menambah wawasan terutama tentang bagaimana melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang. Hal ini membutuhkan pengetahuan yang luas sehingga menyadarkan Greg untuk lebih banyak membaca dalam kesehariannya.

“Yang sulit dalam speech contest ini untuk menguraikan suatu topik dari sudut pandang tertentu dan kemudian menyampaikannya kepada dewan juri. Jadi kebanyakan akan berpidato seperti orasi saja. Seharusnya tidak begitu. Jadi harusnya kita lebih seperti berkomunikasi dengan pendengar menyampaikan pemikiran kita, bukan asal orasi saja,” jelas Greg. [dna]

 

 

 

Share